Main Menu

Terus Tumbuh Positif, Industri Mamin Jadi Prioritas Impelentasi Industri 4.0

Putri Kartika Utami
28-07-2018 15:03

dirjen IKM, Kemenperin mewakili Menteri Perindustrian memberikan kata sambutan pada acara Forum Komunikasi Bakohumas. (Dok.Kemenperin/RT)

Jakarta, Gatra.com - Industri minuman di dalam negeri tumbuh 8,41 persen pada semester I tahun 2018. Kinerja positif ini tentu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menyatakan makanan dan minuman (mamin)menjadi salah satu prioritas dalam implementasi industri 4.0.

”Laju pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman pada triwulan I tahun 2018 mencapai 12,70 persen dan berkontribusi hingga 35,39 persen terhadap PDB industri non-migas,” katanya saat meninjau pabrik PT Coca-Cola Indonesia di Bali, Jumat (27/7).

Airlangga yakin industri mamin masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik karena didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar.

Kemenperin memproyeksi produk minuman ringan akan terus tumbuh seiring dengan kebutuhan masyarakat. Kini, masyarakat modern menginginkan produk minuman yang praktis dibawa, aman atau higienis, harganya terjangkau, dan memiliki nilai tambah.

Industri minuman ringan meliputi produsen air minuman dalam kemasan, minuman berkarbonasi, minuman teh siap saji, minuman jus dan sari buah, minuman kopi dan susu, serta minuman isotonic (sport dan energy).

Kemenperin mencatat hingga tahun 2016 jumlah industri minuman ringan mencapai 335 unit usaha dengan kapasitas produksi sebesar 4,7 juta ton per tahun. Tenaga kerja yang terserap sebanyak 48 ribu orang. Sedangkan, nilai ekspornya berada di angka USD83 juta dan nilai investasi tembus Rp12,2 triliun.

Pemain sektor ini tidak hanya didominasi perusahaan besar. Cukup banyak sektor industri kecil dan menengah (IKM) menjadi produsen. Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih melihat IKM makanan dan minuman mempunyai andil signifikan terhadap kemajuan ekonomi nasional.

“IKM makanan dan minuman berkontribusi sebesar 40 persen terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan, dan mampu menyerap tenga kerja hingga 42,5 persen dari total pekerja di sektor IKM,” ujarnya.

Tak heran, IKM makanan dan minuman menjadi salah satu sektor prioritas dalam penerapan program e-Smart IKM seiring implementasi industri 4.0 di Tanah Air. Hingga bulan Mei 2018, jumlah pelaku IKM yang telah mengikuti Workshop e-Smart IKM berjumlah 2430 IKM, dan lebih dari 30 persen peserta berasal dari pelaku IKM makanan dan minuman.

Melalui program e-smart IKM, Kementrian mengajarkan caranya jualan online. Pemerintah menggandeng lima marketplace dalam negeri, yakni Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blanja.com dan Blibli.

“Marketplace itu diantaranya sudah unicorn,” kata Gati.


 Reporter : Putri Kartika Utami

Editor : Bernadetta Febriana

Putri Kartika Utami
28-07-2018 15:03