Main Menu

IFC Keluarkan Obligasi Hijau Melalui Bank OCBC NISP

Aries Kelana
02-08-2018 08:03

Penandatangan kerjasama IFC dan OCBC NISP. (Philippe Le Houérou (kedua dari Kiri dan Parwati Surjaudaja kedua dari kanan) (Dok.IFC/RT)

Jakarta, Gatra.com -- IFC (International Finance Corporation) telah menjanjikan US$150 juta atau sekitar Rp217,5 milyar dalam bentuk obligasi hijau. Tujuannya, untuk memberikan sumber pembiayaan hijau baru untuk memerangi perubahan iklim.

Adalah PT. Bank OCBC NISP Tbk yang menerbitkannya. Obligasi ini merupakan obligasi hijau pertama yang dikeluarkan oleh bank swasta di Indonesia. Obligasi hijau perintis berjangka waktu lima tahun.

IFC yang merupakan salah satu anggota kelompok Bank Dunia akan melihat proyek pintar pendanaan OCBC NISP, mendukung prioritas Pemerintah Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan juga akan berkontribusi pada target pemerintah untuk mengurangi 29 persen emisi gas rumah kaca pada 2030.

“Ini adalah tonggak utama bagi sektor perbankan Indonesia karena diharapkan dapat mengkatalisasi pengembangan pasar obligasi hijau di Indonesia,” kata chief executive officer IFC Philippe Le Houérou, dalam rilisnya yang diterima Gatra.com (2/8/2018).

Menurutnya, di sebuah negara di mana pembiayaan hijau relatif rendah, obligasi hijau pertama ini oleh bank komersial menandai langkah pertama dalam membuka potensi pasar obligasi hijau di Indonesia untuk memacu pembiayaan baru untuk proyek-proyek cerdas iklim.

IFC memperkirakan bahwa pada akhir abad ini perubahan iklim dapat merugikan Indonesia antara 2,5% dan 7% dari produk domestik bruto (PDB).

“IFC sedang berdiskusi dengan pemain lain dan ingin memberikan dukungan investasi dan nasihat untuk membantu mengembangkan produk pembiayaan hijau di negara ini,” sambung Houérou. IFC memperkirakan peluang potensial di Indonesia untuk pembiayaan proyek lingkunga ini sekitar US$274 milyar hingga 2030.

Selain komitmennya untuk mendanai obligasi hijau bank yang pertama, IFC akan mendukung Bank OCBC NISP dengan pekerjaan penasehat untuk pembiayaan hijau termasuk mengidentifikasi dan melaporkan aset-aset hijau. Hasil dari obligasi hijau akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek terkait iklim sesuai dengan Prinsip-prinsip Green Bond.

“Kami menyadari bahwa keberlanjutan adalah perjalanan panjang dan ikatan hijau perintis merupakan langkah awal bagi Bank OCBC NISP untuk membantu klien kami untuk melakukan bisnis dengan cara yang lebih berkelanjutan dan berkontribusi pada dampak pembangunan yang positif dan tujuan pemerintah”, kata Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP.

“Bersama dengan IFC, kami berharap dapat berkolaborasi lebih lanjut dan menemukan solusi inovatif yang memperluas peluang untuk investasi swasta yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.”

Dalam upaya untuk memacu sumber pembiayaan baru untuk membantu Indonesia menghadapi tantangan iklim dan infrastrukturnya, IFC telah mendukung pemerintah Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan OJK, untuk mengembangkan roadmap pendanaan berkelanjutan untuk Indonesia. Roadmap itu berisi antara lain, pedoman dan kebijakan obligasi hijau yang mewajibkan bank-bank di Indonesia untuk mengembangkan dan melaporkan program pembiayaan berkelanjutan mereka.

Bekerja sama dengan Bank Dunia, IFC juga bekerja untuk membangun kapasitas sektor publik dan swasta dalam pembiayaan lingkungan ini. Bank Dunia juga mendukung pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi Sukuk hijau pertama yang pernah ada oleh pemerintah mana pun. Investasi IFC itu akan membantu menciptakan kelas aset baru untuk menyalurkan pembiayaan jangka panjang untuk memerangi perubahan iklim.


Editor: Aries Kelana

 

 

Aries Kelana
02-08-2018 08:03