Main Menu

PERUJI Adakan Underwriting Summit 2018

didi
03-08-2018 16:08

Acara PERUJI Underwriting Summit (PUS) 2018. (Dok. PERUJI/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Ketua Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (PERUJI), Asri Wulan mengungkapkan, semakin pesatnya bisnis di asuransi tidak diiringi dengan peningkatan kualitas maupun kuantitas dari underwriter.

 

Kurangnya lembaga pendidikan dengan spesialisasi underwriting menjadi kendala dalam menghasilkan underwriter profesional.

Di sisi lain, proses digitalisasi menuntut underwriter yang kompeten serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan cepat tanpa mengabaikan profesionalismenya.

“Biasanya, seseorang yang baru menjadi underwriter belajar secara otodidak (learning by doing), kecuali apabila mereka bekerja di perusahaan asuransi jiwa joint venture yang memiliki fasilitas pendidikan ataupun training khusus untuk para underwriter-nya,” ujar Asri dalam keterangannya, Jumat (3/8).

Guna meningkatkan dan mengembangkan mutu profesionalisme para underwriter jiwa, PERUJI memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan mengadakan Underwriting Summit 2-3 Agustus 2018 di Hotel Tentrem, Yogyakarta.

PERUJI Underwriting Summit (PUS) 2018 yang diikuti oleh para underwriter dari perusahaan asuransi jiwa dan underwriter dari perusahaan reasuransi ini mengangkat tema utama “Underwriting Future in Digital Disruption”.

“Ini merupakan kali kedua penyelenggaraan PUS setelah sebelumnya diselenggarakan di Bali pada 2017,” jelasnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga regulator.

Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Ahmad Nasrullah Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan dalam sambutan mengawali perhelatan PUS 2018.

“Kami mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan PERUJI selama ini. Dari sisi substansinya, saya rasa proses underwriting merupakan jantung dari perusahaan asuransi. Tema yang diangkat PUS kali ini juga menarik karena memang sedang populer mengenai insurance disruption. Harapan OJK dengan keberadaan PERUJI melalui PUS 2018 ini bisa menambah wawasan terhadap proses underwriting apalagi disini banyak pakar-pakar underwriting,” kata Ahmad Nasrullah.

Selain dari pihak PERUJI, OJK dan Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), PUS 2018 juga menghadirkan narasumber pakar underwriter dari dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah Dr. Takehiro Watanabe, Chief Medical Officer of The Toa Reinsurance Company, Limited.

Watanabe yang menjadi pembicara pada sesi Phisical Activity & Cardiovaskular Risk Factor menyambut positif penyelenggaraan PUS 2018. Menurutnya PUS 2018 ini memberi banyak manfaat terutama perihal update informasi terbaru di dunia underwriting dan asuransi jiwa di era digital.

“Sejak keterlibatan saya di PUS 2017, saya melihat begitu besarnya peran PERUJI dalam industri asuransi jiwa di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah peserta dan pembicara yang tidak hanya dari perusahaan Indonesia namun juga dari luar. Bahkan saya pun bisa mendapatkan berbagai informasi dari pembicara lain yang berasal dari Indonesia maupun negara lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Dian Budiani selaku Chief Operation Officer dari perusahaan internasional PT Prudential Indonesia juga hadir sebagai pembicara pada sesi case study. Di sela acara, Dian menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan PUS 2018.

“Kami dari Prudential sangat menghargai Underwriting Summit dari PERUJI ini, mengingat best-practices sharing dan saling tukar pikiran mengenai isu terkini efektif mendorong peningkatan kualitas industri asuransi jiwa di Indonesia,” kata Dian.


Reporter : Didi Kurniawan
Editor : Mukhlison

didi
03-08-2018 16:08