Main Menu

Ketua Akumindo Anggap Petahana Jokowi Lebih Berpihak ke UMKM

Hendry Roris P. Sianturi
10-08-2018 14:30

Petahana Joko Widodo.(GATRA/Adi Wijaya/re1)

Jakarta, Gatra.com – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) beranggapan petahana Joko Widodo lebih berpihak daripada pasangan calon Prabowo-Sandiaga. Pasalnya, selama ini kebijakan Jokowi selalu mendukung pelaku UMKM.


Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M. Ikhsan Ingratubun mengatakan, Jokowi telah membuat 16 Paket Kebijakan Ekonomi yang setengahnya berpihak kepada UMKM. Seperti tarif Khusus Pajak Penghasilan UMKM, Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan UMKM Rest Area.

Ikhsan juga menilai, cawapres Jokowi-KH Ma'ruf Amin adalah ahli ekonomi syariah dan salah satu komisaris Bank Muamalat yang berpihak kepada UMKM dengan sistem syariah. “Jika mau di tingkat akses keuangan kepada usaha mikro dengan konsep koperasi syariah,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (10/08).

Meski demikian, kata Ikhsan, pasangan Prabowo-Sandiaga juga berpihak kepada UMKM. Menurut Ikhsan, Sandiaga Uno masih tercatat sebagai Wakil Ketua Umum bidang UMKM Kadin Indonesia. Ikhsan menilai, selama menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandi telah membuat kebijakan yang pro-UMKM.

Sandi mengeluarkan Pergub tentang Izin UMKM yang berada di Zona Perumahan. “(Tapi) kebijakannya (berpihak) memang lebih banyak Pak Jokowi,” katanya membandingkan paslon Jokowi-Ma’ruf Amin dengan Prabowo-Sandiaga.

Ikhsan berharap, siapa pun presiden yang terpilih, lebih memperhatikan UMKM. Ada beberapa catatan dan permintaan dari Akumindo. Pertama, pemerintah dapat menciptakan iklim usaha yang sehat. Kedua, mempermudah perizinan serta syarat-syarat.

Ketiga, pengentasan kemiskinan melalui Pemberdayaan Usaha Mikro berbasis Koperasi dengan Ekonomi Syariah. Ikhsan menganjurkan agar koperasi syariah dijalankan dengan benar dan tidak berorientasi mencari untung saja, seperti pola perbankan.

“Namun unsur peredaran uang yang banyak di masyarakat adalah yang utama agar terjadi efek belanja kepada penjual sehingga terjadi peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto). Dan akhirnya kepada peningkatan perekomomian di Indonesia tidak stagnan hanya diangka 5,2 persen,” katanya.

Keempat, menjaga kestabilan harga terutama nilai dolar terhadap rupiah. Pasalnya, pelaku UMKM masih banyak bergantung pada bahan baku impor. Terakhir, membangun industri hulu yang bahan bakunya diambil dari alam Indonesia. “Sehingga komponen impor untuk bahan baku kita dapat dikurangi terus menerus,” katanya.


Reporter: Hendry Roris Sianturi
Editor: Arief Prasetyo

Hendry Roris P. Sianturi
10-08-2018 14:30