Main Menu

Kementerian Perdagangan : Tidak Ada Intervensi Terkait Pembelian Pesawat Sukhoi Dari Rusia

Sandika Prihatnala
13-08-2018 19:07

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan. (Dok.ditjendaglu.kemendag/RT)

Jakarta, Gatra.com - Pemerintah Indonesia membantah ada tekanan Amerika Serikat (AS) ikhwal pembelian 11 pesawat Sukhoi dari Russia. "Tidak ada tekanan pihak mana pun, ini pun bukan diplomasi antara Indonesia-Rusia. Ini hanya B to B biasa," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan kepada GATRA, di kantornya, Jakarta, Senin (13/08).

 

Meski begitu, menurut Oke, dalam pembelian Sukhoi Russia ada kesepatakan mengenai mekanisme imbal beli. Artinya, Indonesia membeli 11 pesawat Sukhoi, dan pihak Russia membeli komoditi Indonesia.

Karena itu, sambung Oke, Pemerintah RI dan Russia saat ini tengah melakukan pembahasan mendalam mengenai working room. Hal ini bertujuan, untuk mendetailkan aturan main apa saja yang akan disepakati kedua belah pihak.

"Tahapannya masih menyusun aturan main. Siapa dan tugasnya apa. Draft dari kita sudah disampaikan, dari Rusia juga sudah," ungkap Oke.

Sebagaimana diketahui, Indonesia akan membeli peswat Sukhoi buatan Rusia senilai US$1,14 miliar atau Rp 15,3 triliun (Rp 13.500/dolar). Maka dengan skema sistem imbal beli itu, Rusia harus membeli komoditas Indonesia senilai US$570 juta.

"Ada di MoU, intinya bahwa Rusia akan menyepakati ada beberapa komoditi," ucapnya.

Selanjutnya, kata Oke, komoditi apa saja yang akan ditawarkan Indonesia kepada pihak Rusia masih dalam pembahasan yang mendalam. Ia mencontohkan, salah satunya Indonesia akan menawarkan komoditu seperti tekstil, karet, Palm Oil dan turunannya. "Itu contoh saja yang kita tawarkan, tapi detail pastinya belum," tegasnya.

Oleh karena itu, Oke bilang, pembelian Sukhoi dari Rusia murni B to B dan bukanlah skema barter. Adapun kendalanya saat ini, lanjutnya, terkait mengenai jumlah komoditi yang ditawarkan.

"Misalnya kita minta 20, mereka inginnya 10. Lalu, misalnya kita menawarkan seragam militer, bila mereka (Rusia) sudah punya, ini kendalanya, " imbuhnya.

Meski begitu, ia mengingatkan, agar perdagangan yang sudah ada. Misalnya, kopi Indonesia yang di ekspor ke Rusia jangan sampai dianggap pula sebagai mekanisme imbal hasil jual beli pesawat Sukhoi.


Reporter : MEF

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
13-08-2018 19:07