Main Menu

KADIN Ditunjuk Sebagai Penyelenggara Sidang Tahunan ICCIA

Sandika Prihatnala
14-08-2018 14:04

Ketua Umum Kadin Indonesia Roslan Roeslani. (Dok. Kadin/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Sidang Tahunan Islamic Chamber of Commerce, Industri & Agriculture (ICCIA) akan segera berlangsung di Jakarta pada 22-23 Oktober 2018 mendatang. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) resmi ditunjuk penyelenggara untuk menyambut  27th Board of Directors dan 60th FInancial COmmittee Meetings dengan tema "Inclusion in Sharia Economy: A New Paradigm".

 

Ketua Umum Kadin Indonesia Roslan Roeslani mengatakan, sebagai bagian dari Sidang Tahunan, ICCIA akan menyelenggarakan side event yang terdiri dari 17th Private Sector Meeting dari negara-negara yang menjadi anggota OKI. Yang mana dalam Private Meeting tersebut akan mendiskusikan beberapa isu penting terkait bisnis antar negara-negara anggota ICCIA. Adapun tema yang akan didiskusikan adalah "Role of ICCIA in the Developmemt of Halal Economy, Economy Emporwerment of Business Women, Opportunities for Investment in OIC Countries" dengan fokus pada pengembangan infrastruktur.

Ia menambahkan, tema tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur guna meningkatkan saya saing. "Potensi investasi pada infrastruktur merupakan salah satu isu menarik untuk didiskusikan oleh negara-negara OKI, dimana negara-negara tersebut bisa memperoleh kesempatan berinvestasi dan berbisnis di Indonesia, pada saat yang sama bersamaan Indonesia dapat menarik lebih banyak lagu dana dari perusahaan swasta untuk pembangunan dan peningkatan pelayanan infrastruktur," kata Rosan kepada GATRA, di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (14/08).

Selain itu, lanjut Rosan, pada agenda tahunan ICCIA akan dibahas pula mengenai inklusif keuangan syariah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dunia didorong untuk bersifat inklusif. Sehingga, inklusif keuangan syariah merupakan mekanisme yang baik untuk membantu mengurangi kemiskinan dan mengatasi ketimpangan.

Selanjutnya, kata Rosan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memiliki modal kuat untuk memanfaatkan ekonomi syariah sebagai alat untuk mengatasi berbagai isu pembangunan. Di samping itu, Indonesia memiliki potensi sebagai negara dengan perekonomian terkuat di antara negara-negara OKI.

"Maka dari itu, sudah seharusnya Indonesia dapat memposisikan diri sebagai negara pemimpin dalam pengembangan usaha dan pendanaan syariah di antara negara-negara OKI," jelasnya.

Sementara itu, tambahnya, perkembangan zaman dengan meningkatnya pengunaan teknologi digital dapat juga membantu mempercepat inklusi keuangan. Oleh karena itu, menurutnya, penetapan tema "inklusif" dan "ekonomi syariah" ke depannya berpotensi untuk menjadi paradigma baru dalam menghadapi fenomena dan penyelesaian gejolak perekonomian global.

Untuk diketahui, ICCIA merupakan organisasi kamar dagang yang berafiliasi dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang didirikan pada sidang Menteri Luar Negeri yang diikuti negara-negara anggota OKI di Istanbul, Turki, pada 1976. Organisasi ini beranggotakan 57 badan atau federasi Kamar Dagang dari masing-masing negara anggota OKI, yang memiliki tujuan utama yakni untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia dengan memperkuat kolaborasi sesama anggota di antaranya pada sektor perdagangan dan investasi, perbankan serta informasi teknologi.


Reporter : MEF

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
14-08-2018 14:04