Main Menu

Indef: Krisis Lira Bisa Terjadi pada Rupiah

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 09:16

Dzulfian Syafrian (Istimewa)

Jakarta, Gatra.com - Sepanjang tahun ini mata uang Turki, Lira sudah jatuh hingga 40 persen. Krisis Lira ini memicu kekhawatiran di sejumlah negara.

 

“Apa yang terjadi di Turki, juga bisa terjadi di Indonesia karena kita berada di posisi yang serupa,” sebut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dzulfian Syafrian dalam catatan yang ia sampaikan ke Gatra.com, hari ini, Rabu (15/8).

Kandidat Doktor di Durham University Business School, Inggris itu lantas menjelaskan maksudnya. Ia melihat kalau Indonesia dan Turki sama-sama mengalami defisit ganda (twin deficits), yaitu defisit fiskal dan defisit neraca berjalan. “Defisit ganda ini lah yang menjadi alasan struktural dan fundamental mengapa rupiah terus melemah,” katanya.

Defisit neraca berjalan disebabkan utamanya oleh arus modal keluar (capital outflows) dari Indonesia ke Amerika Serikat. Dengan kata lain, Dollar balik ke kandangnya. Pelarian modal ini disebabkan oleh terus merangkak naiknya tingkat suku bunga AS (Fed Rate) sebagai respon dari perekonomian mereka yang terus membaik.

Pelarian modal ini, tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara emerging markets lainnya, termasuk Turki. Bahkan, Turki mengalami pelarian modal yang paling parah. Ini tercermin dari defisit neraca berjalannya yang mencapai 5 persen dari PDB mereka. Itulah alasan utama mengapa Lira mengalami pelemahan paling parah terhadap dollar AS pada 2018 ini.

Sesungguhnya, mengapa krisis Lira bisa terjadi? “Salah satu penyebab utamanya adalah blunder kebijakan yang dilakukan Turki. Berbulan-bulan mereka enggan menaikkan suku bunganya, meskipun inflasi selalu dua digit dan mata uang mereka terus melemah dalam kurun waktu belakangan,” jelas Dzulfian.

Turki memaksakan rezim suku bunga rendah karena mereka masih ingin mengundang investasi asing untuk ditanam di negeri mereka. Padahal hal ini sulit terjadi mengingat pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh AS. Jadi, krisis Lira ini adalah buah dari blunder kebijakan ekonomi.

Dalam menjustifikasi argumennya dan juga menarik simpati pendukungnya, Erdogan menggunakan dalih agama. Dia mengeluarkan dua pernyataan yang sangat kontroversial dan membuat sentimen negatif di pasar.

Pertama, dia menyatakan bahwa ’suku bunga adalah induk dari segala kejahatan (the mother of all evils)’. Kedua, dia juga menantang AS, ’Jika mereka (AS) punya dollar, kami punya Allah!’.

“Kedua pernyataan ini menciptakan sentimen negatif di mata investor. Secara tidak langsung menunjukkan bahwa krisis mata uang di Turki masih akan terus berlanjut karena tidak ada itikad baik dari pemerintah untuk memitigasi krisis ini,” ungkap Dzulfian lagi.

Selain itu, kedua pernyataan ini juga menunjukkan betapa bahayanya jika kebijakan ekonomi tidak didasarkan pertimbangan yang matang, logis, dan rasional.

“Meskipun perdagangan kita dengan Turki tergolong kecil, krisis di Turki bisa berdampak ke perekonomian Indonesia melalui beberapa cara,” tutup Dzulfian.


Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
15-08-2018 09:16