Main Menu

Ekspor Jagung Abaikan Kebutuhan Dalam Negeri

didi
20-08-2018 21:00

Benih jagung untuk ekspor (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/yus4)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com - Kebijakan pengembangan lahan jagung yang jauh dari pusat industri, menjadi sumber masalah pangan dan pakan nasional, baik bagi petani maupun kalangan industri. Akibatnya, hasil panen petani tak mampu diserap pasar secara luas.


Kebijakan ekspor jagung oleh Kementerian Pertanian (Kementan) ke Filipina, karenanya, menjadi pertanyaan. Bukan hal yang patut dibanggakan. Apalagi, hingga saat ini pun kebutuhan dalam negeri untuk jagung masih mengalami defisit.

“Jadi, sebenarnya tidak tepat satu klaim yang lalu seolah jagung sudah surplus, lalu kita ekspor. Nggak. Ekspor jagung itu sudah hal yang sangat rutin,” tutur Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Dwi Andreas, Senin (20/8).

Dwi menjelaskan, ekspor tersebut bahkan sudah terjadi belasan tahun lalu dan biasa dilakukan ketika harga pasar jagung domestik sudah terjun ke bawah US$200 per ton. Rata-rata tiap tahunnya Indonesia terbiasa mengekspor jagung di kisaran angka 50 ribu ton. Tetapi, menurutnya pilihan ekspor saat ini bukanlah hal tepat.

“Bagaimana bisa harga jagung di Indonesia di atas Rp 4 ribu per kilogram, lalu kita mengekspor di mana harga jagung internasional hanya US$210 per ton. Terus logikanya di mana,” ujarnya mempertanyakan.

Kemudian, distribusi dalam negeri yang sulit juga berekses kepada pilihan ekspor para petani jagung yang sudah berlangsung ketika Fadel Muhammad masih menjabat sebagai Gubernur Gorontalo. Asal tahu saja, Gorontalo selama ini menjadi daerah sentra produksi jagung nasional. Ekspor jagung ke Filipina yang sebelumnya dibanggakan Menteri pertanian Amran Sulaiman, juga dihasilkan dari kebun-kebun jagung di Gorontalo.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total produksi jagung di Indonesia per 2015 berada di angka 19,61 juta ton. Sebanyak 54,12% atau sekitar 10,61 juta tonnya diproduksi di Pulau Jawa. Sisanya tersebar di berbagai pulau lain.

Hampir 40% sentra produksi jagung berada di luar Pulau Jawa. Sementara itu, mayoritas konsumen jagung yang merupakan perusahaan pakan ternak berada di Pulau Jawa. Lebih jauh, persoalan lemahnya distribusi justru menciptakan efek domino pada tidak meratanya harga jagung yang kemudian berimbas pada kenaikan harga pakan ternak, kenaikan harga telur maupun ayam ras akhir-akhir ini.

“Karena pabrik pakan ternak itu sekitar 69% ada di Pulau Jawa. Sehingga jagung-jagung yang luar Jawa, ini agak kesulitan juga terserap di industri pakan ternak yang ada di Jawa,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Dwi melanjutkan, distribusi makin menjadi persoalan karena pola pengembangan jagung yang dilakukan Kementerian Pertanian diarahkan di luar Pulau Jawa. Sebenarnya ini dapat dimaklumi, mengingat lahan di Pulau Jawa memang sudah sangat terbatas dan cenderung digunakan untuk penanaman padi.

Sebagai gambaran terdapat 10 sentra jagung di Indonesia di mana hanya tiga di antaranya yang berada di Pulau Jawa. Kesepuluh sentra jagung tersebut, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, NTB, Gorontalo, NTT, dan Sumatra Barat.

Kesulitan Petani
Kesulitan petani jagung mengemuka dari daerah. Petani jagung di sejumlah wilayah di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mengeluhkan sulitnya memasarkan produksinya meski harga yang ditawarkan lebih murah ketimbang harga pasar.

"Saya memiliki stok jagung sekitar 20 ton dan sampai sekarang belum ada yang membeli padahal saya tawarkan hanya Rp 3.000 per kg atau di bawah harga normal Rp3.500 per kg," kata salah seorang petani jagung dari Tidore Kepulauan, Muhammad, dikutip dari Antara.

Para petani jagung di daerah itu selama ini menjual produksinya kepada para pedagang pengumpul. Tetapi saat ini mereka tidak lagi melakukan pembelian dengan alasan masih memiliki stok cukup banyak menyusul kurangnya permintaan dari daerah tujuan antar-pulau.

Menurut dia, sejak Pemkot Tidore Kepulauan menggalakkan program pengembangan jagung di daerah itu dengan memberikan berbagai bantuan kepada petani, seperti bibit dan peralatan, banyak petani setempat kemudian fokus mengembangkan jagung.

Tetapi dengan sulitnya petani jagung memasarkan produksi, seperti yang terjadi saat ini membuat petani jadi susah, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari hanya mengandalkan dari hasil penjualan jagung.

Sekjen Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Soya melihat, ekspor lazim dilakukan mengingat tidak seluruhnya jagung nasional terserap pasar domestik pada saat musim panen raya tiba. Di sisi lain, jagung tidak bisa disimpan lama-lama karena belum ada infrastruktur penyimpanan dan pengeringan yang memadai.

Pada akhirnya, jumlah yang melimpah hingga 60-70% pada musim panen Oktober-Maret dipilih untuk diekspor, seperti ke Filipina. Ekspor pada masa itu pun menguntungkan karena harga yang ditawarkan lewat ekspor jauh lebih menjanjikan.

Di samping itu, biaya untuk mendistribusikan jagung-jagung tersebut ke luar negeri nyatanya lebih murah dibandingkan menyalurkannya ke pabrik-pabrik pakan di Pulau Jawa.

Petaka pun terjadi ketika memasuki bulan-bulan setelah Maret. Produksi jagung yang hanya 30% dari total produksi tahunan membuat keberadaan komoditas ini menjadi langka di pasar domestik.

“Ini kendalanya. Sehingga pada saat sekarang, pabrik pakan sulit mendapatkan jagung karena memang jagungnya tidak disimpan pada saat panen raya,” katanya lagi.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Arief Prasetyo

didi
20-08-2018 21:00