Main Menu

Revitalisasi Industri Gula Harus Manfaatkan Inovasi Teknologi

Mukhlison Sri Widodo
23-08-2018 21:38

Dirut PT RNI, B. Didik Prasetyo pada Seminar Nasional tentang “Daya Saing Industri Gula di Era Industri 4.0” di Bogor, Kamis, (23/8). (Dok. PT RNI/FT02)

Bogor, Gatra.com - Melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, mau tidak mau, industri gula di dalam negeri juga harus mampu menyesuaikan diri untuk berubah mengikuti perkembangan era Industri 4.0. 

 

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arif Satria menyatakan, bahwa strategi peningkatan daya saing industri gula di era Revolusi Industri 4.0 dapat dilakukan melalui inovasi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pada berbagai aspek di industri gula. 

“Mulai dari aspek produksi, keterkaitan rantai suplay, investasi, hingga ke aspek penelitian terintegrasi, peningkatan kapasitas dan lain,” katanya, saat menyampaikan presentasi dalam Seminar Nasional tentang “Daya Saing Industri Gula di Era Industri 4.0” di Bogor, Kamis, (23/8) seperti dikutip dari rilis yang diterima GATRA. 

Selain itu, karena permasalahan industri gula lebih pada permasalahan sosial, maka yang diperlukan ialah edukasi melalui pendampingan petani. 

Menurut Arif Apabila revolusi industri 4.0 diimplementasikan oleh industri gula nasional, maka harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas petani sehingga bisa saling mendukung. 

Selain Arif seminar yang diadakan IPB bekerjasama dengan dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini juga menghadirkan Direktur Utama PT RNI, B. Didik Prasetyo, Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan RI, Avanti Fontana, PhD sebagai keynote speaker, dan Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Kepresidenan bidang ekonomi dan juga merupakan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Dalam keynote speech-nya Dr. Avanti Fontana menyampaikan problematika industri gula di Indonesia pada kenyataannya cukup kompleks. 

Permasalahan tersebut tidak hanya pada tataran on-farm tetapi juga off-farm, tetapi juga karena adanya dualisme komoditas/pasar, dan tata niaga yang tidak efisien.

Dampaknya, tingkat efisiensi dan produktivitas industri gula rendah dan tidak kompetitif. 

Ditambah lagi permasalahan impor, ketersediaan stok dan hal lainnya berkaitan dengan regulasi yang dianggap masih belum efektif dan efisien.

Sementara Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika yang memberikan beberapa poin rekomendasi yang bersifat jangka panjang dalam upaya perombakan sistem tata niaga gula tersebut. 

Diharapkan ke depannya industri gula nasional dapat lebih siap untuk menyesuaikan diri dengan era Industri 4.0 sehingga dapat mendongkrak daya saing dan kembali berjaya di tataran global.

Terkait masa depan industri gula sendiri, Direktur Utama  PT RNI, B. Didik Prasetyo menyatakan optimas, bisnis pergulaan masih punya potensi. 

Ini karena masih banyaknya ruang untuk peningkatan daya saing dan inovasi di industri gula. 

Apalagi, setiap bagian dari tanaman tebu mulai dari pucuk, daduk hingga batang dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. 

Ia juga menyatakan  bahwa untuk menghadapi Industri Gula 4.0, budidaya tebu harus dikembangkan dengan sistem terintegrasi dari hulu ke hilir melalui pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelegence (AI). 

“Dan pola pikirnya harus Go Beyond industri gula. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi operasional industri tebu baik on-farm maupun off-farm dan aspek lain di luar industri gula,” paparnya. 


Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
23-08-2018 21:38