Main Menu

Wapres: Kebutuhan Energi Meningkat 12% Pertahun

Anthony Djafar
29-08-2018 14:15

Wapres Jusuf Kalla saat membuka Pameran The 7th IndoEBTKE ConEx 2018 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/8) (Dok. Setwapres/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan bahwa kebutuhan energi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Kondisi ini mendorong Pemerintah terus berupaya melakukan terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan dan memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai sumber energi bersih demi masa depan.

 

"Kebutuhan energi meningkat kira-kira 12% tiap tahun. Kebutuhan energi adalah sebuah keniscayaan yang tidak pernah berhenti,” kata Wapres saat membuka Pameran The 7th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) tahun 2018 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/8).

Wapres menyebut bahwa setiap kemajuan tidak mungkin tanpa energi. Apalagi masyarakat saat ini yang berada di apartemen atau rumah-rumah bertingkat ingin punya AC, TV, mesin cuci.

“Makanya, kita harus menciptakan iklim udara yang lebih baik," katanya.

Di acara yang bertajuk “Investment Breakthrough to Achive Renewable Energy Target” ini, ke depannya, Wapres berharap pemerintah akan segera mencari terobosan baru untuk menciptakan energi bersih, berkelanjutan, memiliki harga terjangkau sehingga menarik minat para investor untuk menanamkan modal di sektor energi baru terbarukan.

"Terobosan yang ingin dicapai agar mempunyai energi yang bersih, sustainable dan konstan harganya," katanya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan melaporkan bahwa sesuai dengan komitmen Indonesia pada COP 21 di Paris tahun 2015 mengenai penurunan emisi karbon, pengembangan energi baru terbarukan harus didorong dan dipercepat.

“Kementerian ESDM terus bekerja keras untuk merealisasikan strategi percepatan pengembangan EBT, salah satunya melalui perluasan pencampuran Biodiesel dalam BBM sebesar 20% untuk sektor transportasi,” katanya.

Jonan menambahkan bahwa pengembangan EBT didorong lebih cepat dan sampai hari ini di sektor ketenagalistrikan, EBT menyumbang 12,7% dalam bauran energi, masih perlu 10% untuk mencapai 23%.

“Sektor transportasi sesuai arahan Bapak Presiden dan Wakil Presiden, perluasan B20 akan berlaku secara efektif mulai tanggal 1 September 2018 untuk sektor transportasi dan BBM, sehingga bauran EBT bisa menjadi 15%," katanya.

Ditempat yang sama, Surya Darma selaku ketua Panitia menyampaikan bahwa saat ini pemerintah juga telah menunjukan komitmennya untuk merealisasikan target yang ditetapkan pemerintah melalui kejelasan dan transparansi dari metodologi yang digunakan dalam menentukan penurunan emisi.

Menurutnya, Masyarakat Energi Terbarukam Indonesia (METI) telah dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia demi kesejahteraan masyarakat.

"METI merasa bangga menjadi bagian dari upaya Pemerintah untuk ikut menarik para investor, mencari terobosan teknologi dan regulasi dan pola pendanaan untuk mencapai target bauran energi 23% pada tahun 2025. Salah satunya dengan mendukung percepatan B20," katanya.

Surya mengakui masih banyak tantangan dalam pengembangan EBT di Indonesia secara komersial seperti menciptakan harga yang kompetitif bagi para investor.

Acara yang di gelar 29 hingga 31 Agustus 2018 ini, merupakan agenda tahunan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) yang didukung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menekankan energi terbarukan menjadi solusi untuk keamanan energi yang mana pada saat ini terjadi krisis energi di berbagai sektor.

Berbagai rangkaian kegiatan diselenggarakan pada acara IndoEBTKE Conex ini antara lain conference, exhibition, breakout session paper competition, dan training session.


Editor: Anthony Djafar

 

Anthony Djafar
29-08-2018 14:15