Main Menu

Utamakan Jaga Stok Jagung Dalam Negeri Sebelum Ekspor

Cavin Rubenstein M.
30-08-2018 10:44

Panen Jagung (ANTARA/Prasetia Fauzani/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Produksi jagung yang melimpah dan rencana ekspor tentu sebuah kebanggaan. Tapi alangkah baiknya jika kecukupan stok dalam negeri diprioritaskan.

 

Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional, Maxdeyul Yola menyampaikan bahwa saat produksi sedang tinggi, harus ada yang disimpan untuk memenuhi stok kebutuhan produksi pakan di musim kemarau nanti. Karena pada masa itu biasanya produksi menurun.

"Yang disayangkan pada produksi Oktober hingga Maret [2017] kemarin, kenapa pabrik pakan tidak beli sebanyak-banyaknya. Bulog juga tidak main untuk mengamankan pasokan dalam negeri," kata Maxdeyul dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Gatra.com.

Oleh karena itu, ia tidak heran bila harga jagung saat ini tinggi karena kurangnya pelaku industri mengantisipasi kekurangan stok. "Kalau melihat situasi sekarang, dengan harga tinggi, artinya bulan-bulan ini produksi jagung tidak banyak. Sehingga jumlahnya untuk suplai pabrik pakan yang berkesinambungan tiap bulan itu tidak terpenuhi," ungkapnya.

Pada kesempatan berbeda, pengusaha jagung dari PT Lintas Agro Group, Maksun Jatmiko mengakui, harga jagung di tingkat petani hingga pabrikan saat ini memang sedang tinggi. Dikatakannya, suplai yang minim karena saat ini belum memasuki musim tanam.

Ia menuturkan, harga jagung di tingkat petani bahkan telah mencapai kisaran Rp3.400-3.500 per kilogram. Harga yang lebih tinggi bakal dijumpai di tingkat pabrikan, mencapai Rp4.500—4.600 per kg.

Maksun mengungkapkan, kondisi naiknya harga jagung di sekitar triwulan III memang terjadi tiap tahunnya. Ironisnya ketika mulai memasuki masa panen raya di kisaran bulan April nanti, harga jagung justru anjlok.

“Ketika panen raya puncak, harga jagung itu hancur-hancuran. Itu paling cuma Rp2.000—2.200 per kilogram,” kata Maksun.

Pola yang selalu berulang ini cukup disesalkan karena cenderung tidak mengalami perbaikan dari waktu ke waktu. Pemerintah dianggap menjadi penyebab berlanjutnya masalah harga jagung yang amat fluktuatif.

“Tantangannya sekarang adalah pengaturan penanaman. Masalahnya pemerintah kita tidak punya konsep yang bagus di situ,” keluh pengusaha ini.

Dengan harga jagung yang sedang demikian tinggi, ia pun heran jika Menteri Pertanian terus menyerukan kebanggaan akan ekspor jagung. Masalahnya di dalam negeri sendiri, sebenarnya kondisi harga tinggi menunjukkan suplai jagung yang minim.

Maksun pun mengakui, bagi pengusaha pakan ternak, suplai jagung dari tahun ke tahun selalu mengalami kekurangan. Dari sisi produsen jagung, kondisi harga tinggi pun akan lebih menarik untuk disebar dalam negeri karena tidak memerlukan berbagai administrasi yang menyulitkan.

“Kalau mau jual ke luar, mau jual ke mana? Di dalam juga kurang kok. Kita pasti jualnya di sinilah, yang gampang. Nggak perlu ini itu. Jadi kalau ada Mentan bilang ekspor jagung, ya kita heran juga. Cuma kan dia juga butuh panggung untuk presiden kan,” tuturnya.

Kondisi akan ekspor jagung ini sejatinya sama seperti proyek subsidi benih yang digagas kementerian yang sama. Meskipun disebut-sebut telah ada bantuan hingga Rp2 triliun, nyatanya dari hulu ke hilir masih sulit merasakan dampak dari besarnya bantuan benih tersebut. Ini pula yang membuat para produsen jagung hingga pengusaha pakan ternak tak habis pikir.

“Mereka juga heran katanya ada bantuan benih sampai Rp2 triliun, tapi ke mana hasilnya? Buktinya masih kekurangan pasokan jagung. Ini malah katanya ekspor, kan lucu,” pungkasnya.



Editor : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
30-08-2018 10:44