Main Menu

Rupiah Melemah, Analis: Pemerintah Harus Tetap Perhatikan Pasar

Hendry Roris P. Sianturi
30-08-2018 15:52

Ilustrasi Nilai tukar Rupiah (GATRA/Eva Agriana/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Selama satu pekan terakhir, laju rupiah tercatat masih memprihatinkan dengan berada di level Rp14.500-Rp14.600 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan kemarin, rupiah tetap menggambarkan statistik yang suram di level Rp14.651 dan masih belum memberikan harapan untuk mengalami penguatan signifikan.

 

Berdasarkan pantauan dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (Jisdor BI), rupiah kembali merosot ke level Rp14.643 pada penutupan perdagangan Rabu (29/8). Tercatat, mata uang garuda melemah tipis sebesar 29 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di level Rp14.614 per dolar AS.

Chief Risk Officer Akseleran, Elquino Simanjuntak mengatakan bahwa pergerakan mata uang rupiah yang terus berada dalam pelemahan karena mayoritas dipengaruhi oleh pasar. Di sisi lain, apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan menetapkan rupiah secara kekuatan fundamental ekonomi di level Rp13.400 pada tahun ini sudah di jalur yang benar.

“Pemerintah sudah on the right track. Meski demikian tetap mengikuti mekanisme pasar. Dengan kondisi seperti saat ini, ada baiknya pemerintah tetap ada di pasar dan memperhatikan pasar. BI juga harus terus mengintervensi pasar agar menjaga pelemahan rupiah tidak semakin merosot,” ujar Elquino di Jakarta.

Dia pun mengungkapkan, pergerakan nilai tukar dolar AS ke rupiah yang begitu cepat juga dipengaruhi oleh aspek kemanusiaan pelaku transaksi. Mata uang adalah salah satu bentuk investasi dan investor akan selalu berupaya mencari laba.

Alhasil, dalam transaksi mata uang, sama seperti transaksi harga komoditas, maka yang dicari investor adalah fluktuasi/volatilitas (VIX) karena apabila terjadi demikian mereka bisa mendapatkan laba dengan memasang posisi.

Menurut Elquino, walaupun investor sekarang ini telah banyak menggunakan data untuk pengambilan keputusan, tetapi investor profesional sekalipun akan menggunakan insting dalam penentuan pemasangan posisi.

Insting inilah yang didasari oleh emosi manusia yang dipengaruhi oleh ekspektasi dan atau historis. Insting trader inilah yang mendorong tinggi atau rendahnya volatilitas pada saat mereka melihat data fundamental ekonomi.

"Kondisi ini terlihat dari perbandingan antara pergerakan nilai tukar dolar AS ke rupiah dibandingkan dengan pergerakan nilai tukar euro ke rupiah ataupun yen ke rupiah,” jelasnya.

Kedepannya, Elquino mengharapkan, pemerintah dan BI terus mendorong perkembangan industri kreatif, pariwisata dan ekspor. Tujuannya agar selalu tercipta kemampuan menghasilkan devisa yang lebih baik dari sekarang ini, dimana inflow devisa harus tetap lebih besar dari outflow devisa.


Reporter: Hendry Roris Sianturi
Editor: Flora L.Y. Barus

Hendry Roris P. Sianturi
30-08-2018 15:52