Main Menu

Intervensi BI akan Dollar, Pengamat Prediksi Gejolak Masih Terjadi

Birny Birdieni
31-08-2018 20:25

Perry Warjiyo. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/re1)

Jakarta, Gatra.com- Nilai tukar dollar terhadap rupiah mencapai angka tertinggi selama kurun waktu 2018 dan tiga tahun terakhir dengan menembus angka Rp14.710,- per US$ pada sesi pembukaan, Jumat (31/8).

 

Data Bloomberg menyebut nilai tukar rupiah akan dollar pada sesi penutupan sebenarnya cenderung menguat 30 basis poin menjadi Rp14.680,- per US$ dibanding saat sesi pembukaan sebelumnya.

Namun demikian, nilai tukar rupiah akan dolar dalam kurun beberapa hari ini sebenarnya melebihi angka tertinggi yang pernah dicapai pada 25 September 2015 lalu dengan menembus Rp14.693,- per US$. Tahun ini nilai terendah adalah mencapai Rp13.316,- per US$.

Untuk mengawal secara ketat stabilitas nilai tukar Rupiah, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI telah melakukan serangkaian langkah stabilisasi. Yakni dengan meningkatkan volume intervensi di pasar valas.

Lalu kedua melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. "Ketiga  membuka lelang FX Swap dengan target lelang pada hari ini (31/8) 400 juta dolar AS," kata Perry.

Selain itu, ungkap Perry, BI juga membuka windows swap hedging. Serta meningkatkan koordinasi dengan Pemerinta, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perry menyebut bahwa BI meyakini kondisi perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan. "Beberapa indikator perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan tersebut," ujarnya.

Seperti pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup baik. Serta inflasi yang rendah dan terjaga. Kondisi stabilitas sistem keuangan juga terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh intermediasi yang kuat.

Namun demikian, lanjut Perry, Bank Indonesia juga senantiasa mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian global sebagaimana yang terjadi pada Turki dan Argentina.

Hingga akhir tahun, Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan dapat mengarah pada 2,5% dari PDB pada tahun 2018. Serta 2% dari PDB pada tahun 2019.

"Khususnya didukung oleh beberapa kebijakan Pemerintah seperti kebijakan B20 yang dapat menurunkan defisit hingga US$2,2 miliar," ungkap Perry.

Juga hal lainnya penguatan sektor pariwisata. Serta penundaan beberapa proyek Pemerintah dan peningkatan ekspor sekitar US$ 9miliat hingga US$10 miliar pada tahun depan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Atmajaya, Agustinus Prasetyantoko mengatakan bahwa rupiah melemah akibat tekanan eksternal yang sangat kuat. "Sehingga gejolak masih akan terus terjadi," ungkapnya.

Secara jangka pendek, Prasetyantoko menyebut pilihan kebijakan intervensi yang dilakukan oleh BI sangat terbatas. Ia melihat hal itu pun sudah dilakukan dari sisi moneter.

Saran Prasetyantoko, dari sisi fiskal misal tarif 900 barang yang kena PPh impor harus segera ditindaklanjuti. "Termasuk jangka panjang defisit transaksi berjalan harus diselesaikan dengan berbagai cara," pungkasnya.


 

Birny Birdieni

Birny Birdieni
31-08-2018 20:25