Main Menu

PSI Minta Pemerintah Kebut CEPA dengan Eropa Untuk Atasi Depresiasi Rupiah

Hidayat Adhiningrat P.
02-09-2018 14:22

Ilustrasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Australia IA-CEPA.(Shutterstock/re1)

Jakarta, Gatra.com - Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Australia IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) rencananya segera diteken pada November 2018. Tercapainya kesepakatan untuk penandatanganan itu ditandai dengan kunjungan Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison ke Jakarta akhir pekan ini.

 

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyambut baik kesepakatan tersebut. “Kita sambut baik. Ini pertanda positif bagi masa depan ekspor kita yang saat ini sedang melemah,” ujar Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo, Minggu (2/9).

Rizal mengingatkan, selain melakukan perjanjian kemitraan dengan Australia pemerintah juga harus mempercepat perundingan dengan negara-negara eropa. Pasalnya, perundingan CEPA antara Indonesia dengan Uni Eropa sudah berlangsung lama.

Meningkatkan volume perdagangan ke Eropa, kata dia, sangat penting untuk mendorong ekspor nasional guna menghentikan defisit neraca perdagangan dan depresiasi rupiah.

“Mengerem impor hanya solusi jangka pendek. Sebab toh yang diimpor barang-barang modal bersifat produktif untuk infrastruktur dan industrilisasi. Berarti di dalam negeri ada pergerakan ekonomi yang masif. Hanya saja ada ketidakseimbangan baru. Sebab itu, dalam jangka panjang harus diperkuat ekspor, sehingga rupiah bisa kembali perkasa,” ucap Rizal.

Secara umum, perdagangan Uni Eropa dengan Indonesia mengalami surplus. Nilai total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2017 mencapai US$ 25,2 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar US$ 14,5 miliar dan impor sekitar US$ 10,7 miliar sehingga surplus di angka US$ 3,8 miliar.
Sementara itu, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tahun 2016 sebanyak US$ 2,6 miliar dengan jumlah 2.813 proyek.

Rizal mengatakan, bila CEPA dengan Eropa tercapai, Indonesia dapat menaikkan ekspornya sebesar 300%. Sebab dengan CEPA, beberapa hambatan yang selama ini mengganjal produk dalam negeri masuk ke Eropa akan berkurang.

Beberapa produk Indonesia yang berpeluang dapat digenjot ekspornya ke Eropa adalah crude palm oil (CPO), produk tekstil, sepatu, makanan dan minuman.

Tak hanya dengan Eropa, Rizal juga menyarankan Indonesia segera mengikat perdagangan bebas dengan Amerika Serikat agar produk tekstil dari Indonesia bebas biaya masuk.

“Coba bayangkan. Macam mana, kita bisa saingan sama negara tetangga. Bea masuk bagi produk tekstil kita di dua benua itu 11%-30%. Sedangkan produk tekstil dari Vietnam, China dan Bangladesh sebesar 0% karena dia sudah ada CEPA,” katanya.

Periode Januari-Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 3,09 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh neraca migas sebesar US$ 6,6 miliar, lebih tinggi dari sebelumnya sebesar US$ 4,62 miliar. Peningkatan itu didorong oleh kenaikkan harga minyak dunia.

Sedangkan dari neraca non-migas terjadi surplus sebesar US$ 3,56 miliar atau lebih kecil dari tahun sebelumnya sebesar US$ 12,0 miliar. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan impor barang modal untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur.

Selain faktor sentimen global. Defisit ini membuat rupiah terus terdepresiasi.


Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
02-09-2018 14:22