Main Menu

Bos Pertamina: Outlet SPBU Kami Sudah Siap Pasarkan B20

Hidayat Adhiningrat P.
03-09-2018 20:18

"Bila semua fasilitas BBM menerima pasokan FAME, potensi penambahan penyaluran B20 akan lebih optimal sehingga Pertamina turut mempercepat pelaksanaan peta jalan bauran energi nasional," kata Dirut Pertamina Nicke Widyawati. (Dok.Pertamina/RT)

Jakarta, Gatra.com – Usai peluncuran kebijakan Mandatori Biodiesel 20 persen (B20), Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Umum (SPBU) Pertamina di SPBU 34.13102 Jl. Matraman Raya, Jakarta Timur.

 

Kunjungan lapangan Nicke ini dilakukan untuk mengecek titik serah akhir pemasaran B20 yang mulai berlaku efektif per 1 September 2018.

Nicke menjelaskan, untuk implementasi B20 pada produk solar, termasuk Non PSO seluruh fasilitas produksi BBM Pertamina, sebanyak 112 terminal BBM telah siap menyalurkan B20. Selanjutnya untuk memastikan produk dapat digunakan konsumen akhir terutama pada mobil pribadi berbahan bakar diesel, maka manajemen perlu meninjau kesiapan fasilitas dan pengelolaan SPBU yang umumnya dikelola oleh mitra bisnis Pertamina.

“Ujung tombak kesuksesan implementasi B20 salah satunya ada di SPBU, sehingga kami perlu dukungan pengusaha SPBU agar mereka dapat memaksimalkan penjualan solar 20 persen. Tapi secara prinsip, outlet SPBU kami sudah siap pasarkan B20,” ujarnya, senin (3/9).

Menurut Nicke, Jakarta merupakan wilayah yang potensial untuk penerapan B20 Non PSO. Hal ini dikarenakan hingga saat ini terdapat 216 SPBU yang menjual produk Diesel. Dengan kebijakan baru ini, Pertamina akan menjual B20 di 174 SPBU Jakarta.

Penjualan B20 di Jakarta akan dipasok dari Terminal BBM Jakarta Group yang telah mampu menyediakan 80,1 ribu kiloliter (KL).

Kunjungan ke SPBU ini juga dimaksudkan agar kebijakan perluasan mandatori B20 dapat efektif berlaku sejak 1 September 2018, sehingga produk B0 di pasaran dapat berganti dengan B20.

Berdasarkan ketentuan, apabila Badan Usaha BBM tidak melakukan pencampuran, dan Badan Usaha BBN tidak dapat memberikan suplai FAME (Fatty Acid Methyl Ester) ke BU BBM akan dikenakan denda yang cukup berat, yaitu Rp.6.000 per liter.

Namun kata Nicke Widyawati, produk B0 masih berlaku untuk beberapa produk.

Pengecualian juga dapat diberlakukan, terutama terhadap Pembangkit Listrik yang menggunakan turbine aeroderivative, alat utama sistem senjata (alutsista), dan perusahaan tambang yang berlokasi di ketinggian.

“Pada produk solar tertentu masih terdapat pengecualian digunakan B0, khususnya produk setara Pertadex atau Diesel Premium,” ungkapnya.


Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
03-09-2018 20:18