Main Menu

Cerita Diplomasi Indonesia Yakinkan AS Ralat Tarif Impor Baja

Birny Birdieni
04-09-2018 06:15

Ilustrasi - Baja (Reuters/Tyrone Siu/FT02)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia ke Amerika Serikat telah berhasil membuat Washington memberikan pengecualian tarif impor 25% terhadap 19 produk baja jenis "carbon and alloy" dan baja tahan karat asal Indonesia.


"Kami juga menggalang dukungan dari sektor bisnis AS, terutama dari para importir produk besi baja dan aluminium Indonesia," ungkap Enggar seperti dikutip dari Antara, Selasa (4/9).

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor baja Indonesia ke AS pada Januari-Juni 2018 mencapai US$139 juta. Nilai ini meningkat 78% dubandingkan periode sama di tahun 2017.

Demikian juga ekspor aluminium Indonesia ke AS pada Januari-Juni 2018 sebesar US$147 juta dolar AS atau naik 47% dibandingkan periode sama tahun 2017.

Enggar menyebut kalau strategi yang dilakukannya adalah meyakinkan importir AS bahwa Indonesia pantas untuk dikecualikan dari tarif global AS. Sebab produk Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan produk di AS dan sudah masuk ke dalam rantai nilai global AS.

Keputusan tersebut keluar pada 2 Agustus 2018 setelah sebelumnya Indonesia juga memperoleh pengecualian untuk 142 permohonan produk baja Carbon and Alloy. Dimana total volumenya lebih dari 6.784 ton dan satu permohonan Alumunium Sheet sebesar 1.680 ton.

Nah pengecualian berbasis produk oleh AS ini adalah hasil konkret pascapertemuan Enggar dengan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross di Washington DC pada akhir 23-27 Juli 2018 lalu. Ketika itu, Enggar memimpin Delegasi Indonesia dalam kunjungan kerja ke AS.

Agenda kunjungan itu antara lain melakukan berbagai pendekatan kepada Pemerintah AS terkait eligibilitas Indonesia untuk program Generalized System of Preferences (GSP) yang ditinjau ulang

Serta mengupayakan pengecualian atas pengenaan tarif global AS terhadap produk baja dan aluminium Indonesia yang telah diterapkan AS sejak bulan Maret lalu.

Adapun Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menambahkan bahwa pengecualian ini merupakan hasil konkret dari upaya Pemerintah Indonesia yang bersinergi bersama eksportir baja dan aluminium untuk memperoleh pengecualian atas pengenaan tarif impor oleh AS sebesar 25% untuk produk baja dan 10 persen produk aluminium.

Menurut Nurwan, masih terdapat 12 permohonan pengecualian produk baja Indonesia dengan kuantitas lebih dari 336.688 ton.

"Serta 276 permohonan pengecualian produk aluminium Indonesia dengan kuantitas lebih dari 367.351 ton yang belum mendapatkan putusan dari Pemerintah AS," ungkapnya.
Nah atas keberhasilan awal ini, Pemerintah Indonesia akan terus melakukan komunikasi intensif dengan AS.

"Upaya pendekatan langsung kepada negara mitra dagang seperti AS ini sangat penting untuk dijaga momentumnya, terutama di tengah kondisi `perang dagang' seperti ini," ungkap Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati.

Pradnyawati menambahkan Kemendag terus mengimbau eksportir baja dan aluminium Indonesia agar mendorong mitra mereka di AS untuk memanfaatkan momentum pascakunjungan kerja Mendag Enggar ke AS dengan mengajukan pengecualian pada produk mereka.


Birny Birdieni

Birny Birdieni
04-09-2018 06:15