Main Menu

Penerapan B20, Pengusaha Truk: ”Siapa Tanggung Biayanya?”

Rosyid
04-09-2018 12:02

Ilustrasi - Biodiesel B20 Pertamina (Dok. Pertamina/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pengusaha angkutan truk kembali mengeluhkan dampak yang yang harus ditanggung akibat penerapan biodiesel B20. Karena penerapan bahan bakar jenis ini membutuhkan penyesuaian teknis. Hanya truk yang diproduksi 2016 keatas yang sudah siap secara teknis untuk menggunakan bahan bakar ini.

 

 

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Aptrindo (Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia) Kyatmaja Lookman dalam keterangan tertulisnya. "Investasi truk itu bukan investasi jangka pendek tetapi investasi jangka panjang. Di negara kita yang utilisasi truknya rendah 50rb km per tahun diperlukan 20 tahun untuk mencapai titik maksimalnya beda dengan negara lain yang utilisasinya tinggi. APM sendiri hanya bisa menjamin truk keluaran 2016 keatas sejak Perpres itu keluar," katanya, Selasa (4/9).

Untuk menyikapi keputusan pemerintah, pengusaha truk melakukan sejumlah langkah antisipasi.
1. Memasang water separator pada truk lama. sifat biosolar yang mengikat air mengakibatkan air tersedot ke ruang bakar. Jika hal ini terjadi, mesin akan rusak.

2. Membersihkan tanki BBM. karena biosolar punya sifat detergensi yang tinggi dan juga korosif, maka akan membersihkan kotoran yang ada di dalam tangki yang kotorannya bisa memperpendek usia pakai filter bahan bakar. Untuk tangki BBM akan diperlukan coating untuk mencegah korosi di tangki BBM. "Saya sarankan cek filter di awal Oktober. Stok yang ada mungkin hanya bertahan dua minggu," kata Direktur Utama PT Lookman Djaja ini.

3. Percepat frekuensi penggantian oli dan filter oli solar. Jangan menggunakan frekuensi penggantian rutin tapi percepat misal biasa 20rb km jadikan 15rb atau 10rb untuk mencegah terjadi Gel-ing di filter dan injector.

"Sebagai pengusaha angkutan mungkin hal tersebut yang bisa kita kerjakan untuk memitigasi dampak B20 ke kendaraan yang sudah ada itu belum biaya akibat lebih borosnya bbm, potensi kerusakan mobil, dsb. Biaya itu semua siapa yang tanggung?" tanya Kyat, demikian panggilan akrabnya.


Pemerintah memperluas penerapan kewajiban pencampuran biodiesel B20 mulai 1 September 2018 dalam rangka mengurangi defisit dan impor bahan bakar minyak serta menghemat devisa.

"Kebijakan ini menjadi bagian dari kebijakan untuk mendorong ekspor dan memperlambat impor," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Peluncuran Perluasan Mandatori B20, di Jakarta, Jumat (31/8).

Mantan gubernur Bank Indonesia tersebut mengatakan kebijakan tersebut dilakukan dalam rangka menyehatkan neraca pembayaran sehingga tidak terlalu lama bisa menghilangkan defisit neraca perdagangan dan selanjutnya mengurangi defisit transaksi berjalan.

Kewajiban pencampuran bahan bakar solar dengan B20 telah dimulai tahun 2016, namun penerapannya belum optimal.

Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20, diperkirakan akan terdapat penghematan sekitar 2-2,3 miliar dolar hingga akhir 2018.


Rosyid

Rosyid
04-09-2018 12:02