Main Menu

Soal Gerakan Cinta Rupiah, Darmin: Jangan Nanti Dibilang Gawat

Ervan
05-09-2018 02:26

Menko Perekonomian, Darmin Nasution.(GATRA/Arif Koes/yus4)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tak sependapat jika ada gerakan cinta rupiah dalam merespons anjloknya kurs rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (US$).

 

Seperti diketahui, gerakan cinta rupiah didengungkan pemerintahan Orde Baru saat merespon anjloknya rupiah pada tahun 1998.

“Jangan lah, nanti dibilang sudah gawat," kata Darmin usai mengkuti rapat internal dengan Presiden Joko Widodo, menyikapi situasi terkini perekonomian nasional, di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (4/9).

Seperti diketahui dalam dua hari terakhir pelemahan rupiah terhadap US$ berkisar Rp 200 rupiah. Ia pun tak setuju jika kondisi rupiah saat ini dibandingkan dengan kondisi 1998 meski sama-sama menembus angka Rp 14.000 per dolar.

"Jangan dibandingkan Rp 14.000 sekarang dengan 20 tahun lalu. 20 tahun lalu berangkatnya dari Rp 2.800 ke Rp14.000. Sekarang dari Rp 13.000 ke Rp14.000. Tahun 2014, dari Rp 12.000 ke Rp14.000," ucapnya.

Kondisi tersebut salah satunya ditopang oleh kondisi krisis Argentina. "(Krisis) Argentina ini semua negara kena, tapi kita tidak lebih buruk dari negara maju," ungkap Darmin.

Dalam hal ini, Darmin meyakini berbagai kebijakan yang sekarang ditempuh pemerintah masih efektif. Beberapa tolak ukurnya, fundamental ekonomi nasional masih dalam kondisi baik, walaupun ada kelemahan akibat terjadi defisit transaksi berjalan.

Chief Market Strategist ForexTime Hussein Sayed menambahkan bahwa gejolak Turki dan Argentina telah memicu ketidakpastian sehingga mata uang pasar berkembang terpengaruh dan melemah.

Pihak Bank Indonesia (BI) memang telah merespon dengan melakukan intervensi pasar valas dan obligasi. Namun Hussein menilai kemungkinan tekanan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat bisa terus memperburuk kondisi rupiah.

Hussein menyebut, BI kemungkinan terpaksa menaikkan suku bunga kembali."Ini mungkin dapatembantu Rupiah dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkasnya kepada Didi Kurniawan dari Gatra.com


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Birny Birdieni

 

Ervan
05-09-2018 02:26