Main Menu

Begini Langkah Kongkret Darmin Nasution Atasi Pelemahan Rupiah

Birny Birdieni
05-09-2018 15:58

Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. (GATRA/Eva Agriana Ali/RT)

Jakarta, Gatra.com- Rupiah sempat mencatat rekor tertinggi sejak krisis moneter 1998. Sontak, hal tersebut membuat para Menteri bidang ekonomi maupun Bank Indonesia kalang kabut. Namun, Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, situasi saat ini jelas problemnya, sehingga diperlukan langkah-langkah konkret. "Itu sebenarnya situasi jelas, memang harus dilakukan langkah-langkah," katanya kepada Gatra.com, di DPR, Rabu (05/09).

 

Selanjutnya, kata Darmin, pemerintah terus melakukan langkah-langkah kongkret tersebut. Semisal, Pemerintah menargetkan mengincar investasi sebanyak-banyaknya. Untuk itu,  pemerintah telah merancang struktur perizinan yang paling sederhana. "Tapi kan ini 1000 ajuan perizinan sehari, jadi kita perlu waktu juga," ujarnya.

Upaya lainnya, kata dia, pemerintah juga merancang insentif fiskal seperti tax holiday, Pph minimal untuk UMKM. Meski demikian, semua kebijakan tersebut membutuhkan waktu. 

Melihat kondisi ini, menurut Darmin, Pemerintah akhirnya menerapkan kebijakan perluasan B20. Sebab, menurutnya, tahun ini saja CPO mengalami surplus produksi dengan jumlah banyak.

Terpenting menurutnya, perluasan B20 diharapkan akan mampu mengurangi impor BBM berjenis solar. Terlebih, program yang diresmikan 1 September lalu ini berjalan, akan memotong defisit neraca perdagangan sekitar US$2,3 milyar. Sedangakan, saat ini neraca perdagangan Indonesia defisit US$3,1 milyar. 

"Itu neraca perdagangan ya, yang hanya ekspor impor saja. Bukan neraca transaksi perdagangan, kalo itu defisitnya jauh lebih besar lagi," jelasnya.

Selain itu, ungkapnya, pemerintah juga akan menambah kuota ekspor batubara. Nah, menurutnya, jika kedua kebijakan tersebut berjalan mulus. Defisit neraca transaksi perdagangan yang saat ini mencapai 3,1% dari PDB, pada akhir tahun nanti bisa berkurang tinggal 2,6% hingga 2,7%. 

"Transaksi berjalan kita mengharapkan sudah bisa mulai turun, yang tadinya kuartal II sudah sampai minus 3%, itu mulai tinggi.  Walaupun 2013 dan 2014 itu sempat 4,2% minusnya," pungkasnya. 

Langkah lainnya, ujarnya, pemerintah akan terus memaksimalkan devisa dari sektor pariwisata. Untuk itu, Pemerintah sudah ada rapat-rapat spesifik seperti bagaimana urusan airnya di tempat wisata, insentif KUR untuk homestay maupun restoran kecil.

Karena itu, menurutnya, untuk pengembangan pariwisata pemerintah telah siap menyediakan fasilitas dan insentif. Namun, masalahnya, investor yang menanamkan modal di sektor pariwisata masih tergolong minim. 

"Itu semua kita sudah siapkan, tapi memang itu invest belum ada. Pelan-pelan,  kita kan tidak bisa maksa orang untuk invest. Kita cuma ngabarin ini loh. Karena ada fasilitas dan bunganya murah," katanya lagi.  


Reporter: M. Egi Fadliansyah
Editor: Birny Birdieni

Birny Birdieni
05-09-2018 15:58