Main Menu

Mata Uang Negara Berkembang Runtuh, Analis Urai Penyebabnya

Rosyid
05-09-2018 16:47

Mata uang rupiah dan dolar AS (Dok. Gatra/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Mata uang negara-negara berkembang terus tertekan. Nilainya terhadap dollar terus tergerus, bahkan beberapa membuat rekor terendah baru.

 

Rupiah termasuk dalam daftar itu yang turun ke titik terendah dalam duapuluh tahun terakhir. Catatan CNBC, Rupiah sempat menyentuh titik terendah 14.940 per dollar pada Selasa yang kemudian sedikit membaik menjadi 14.925 pada Rabu (5/9) tengah hari.

Peso Argentina turun hingga 3 persen. Mata uang ini sudah jatuh 16 persen sejak pekan lalu. Nilai mata uang negara Amerika Selatan ini sudah terdepresiasi sekitar 50 persen sepanjang tahun ini.

Mata uang India Rupee jatuh ke titik terendah baru pada Rabu di level 71,78. Mata uang Turki Lira juga tergenlincir dan Rand Afrika Selatan melorot 3 persen gara-gara data yang mengindikasikan ekonominya telah tersedot resesi.

Selasa, MSCI Emerging Markets Currency Index turun 0,46 persen, penurunan terbesar dalam dua minggu. Sejak awal tahun indeks ini sudah turun 5,53 persen. Meskipun kekhawatiran merebak, para analis meminta para investor tidak panik

Karine Hirn, partner di asset manager East Capital mengatakan, memang ada masalah yaitu dollar yang menguat dan naiknya harga minyak, tapi masalah sebenarnya adalah sentimen para pedagang valas.

"Jangan dilupakan, secara umum pasar negara berkembang benar-benar terkena masalah sentimen karena banyak investor yang berasal dari luarnegeri dan bukan investor domestik. Dan sentimen ini yang benar-benar dirugikan oleh ketegangan perdagangan diseluruh dunia," katanya pada CNBC.

Ia menekankan, sejauh ini dia tidak melihat masalah besar yang timbul dari pendapatan perusahaan. Bisnis secara umum tidak terganggu.

Rupee dan Rupiah adalah dua mata uang yang mengalami tekanan paling besar saat ini dikawasan Asia. Namun Kepala Riset Asia ANZ Khoon Goh mengatakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia 'tidak terlihat buruk', dimana pada triwulan kedua mengalami pertumbuhan.

"Sebagian besar ini karena pasar keuangan merespon kekhawatiran dampak penularan. Sekarang, yang memperumit masalah bagi pembuat kebijaksanaan di Indonesia karena prioritas utamanya adalah mencoba dan menstabilkan nilai tukar," kata Goh.


Rosyid

Rosyid
05-09-2018 16:47