Main Menu

Helmy Yahya: Wirausawahan Sukses Perlu Bekal dan Pengalaman Praktis

didi
06-09-2018 06:58

Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Helmy Yahya. (Dok.Twitter/Helmy Yahya/RT)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com - Tidak mudah bagi para wirausahawan memulai usaha tanpa melalui proses kegagalan. Hal itu seperti dikemukakan oleh Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Helmy Yahya. Menurutnya, di antara ribuan pemula dan perintis, tidak lebih 5% yang berhasil menjadi wirausahawan sukses.

 

“Karena itu, ide saja tidak cukup, perlu bekal ilmu, serta pengalaman praktis,“ kata Helmy kepada Gatra.com, Kamis (6/9).

Helmy Yahya mengomentari hal tersebut karena dirinya adalah salah satu Dewan Komisioner (Dekom), sekaligus juri dan mentor pada kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) ke-9.

DSC adalah kompetisi pencarian wirausaha, memperebutkan total hibah modal usaha senilai Rp2 miliar. Untuk mencari para pemenang, Dekom akan memberikan tantangan (market challenge) kepada peserta DSC, untuk menguji penguasaan aspek strategi dan operasional bisnis (Paham), solusi teknis dan inovasi (Piawai) juga kepribadian sebagai pengusaha tangguh (Persona).

Nilai tambah dari DSC adalah para pemenang akan dikawal dan dibimbing oleh Dekom yang beranggotakan empat orang, mulai dari inspirasi bisnis, perencanaan, kurasi, hingga evaluasi bisnis.

”Asal tahu saja, beberapa di antara mereka itu, ada yang tidak bisa berhitung, sehingga tidak tahu fixed cost (biaya tetap) dan variable cost (biaya tidak tetap) dalam bisnis, misalnya,” ujar Helmy.

Lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), yang juga pemilik gelar master of Professional Accounting dari Universitas Miami ini menggarisbawahi, karena DSC serius dalam pelaksanaannya, para juri sekaligus juga menjadi Dekom menghargai ide orisinil para peserta.

“Itu sebabnya peserta dalam kompetisi bisnis DSC bervariasi, ada yang baru mulai menjalankan usahanya, ada juga yang memerlukan hibah modal usaha untuk pengembangan usahanya,” ujar dia.

Yang pasti, kata Helmy, DSC sangat menghargai ide-ide otentik, sehingga ide harus genuine, dan harus memberi manfaat. “Banyak juga mereka yang menjadi socio-preneur dapat menciptakan lapangan kerja,“ ujar dia.

Helmy menemui banyak sociopreneur dari ajang DSC, selain juga melihat ada unsur heroisme dan adventure dari para milenial di sini. Sebutlah Gazan Ghafara, yang telah membawa produk keripik pisang ‘Zanana Chips’ hingga ke Tiongkok.

Ketika ditanya mengapa wirausahawan muda seperti Gazan hanya satu di antara seribu wirausahawan lainnya, Helmy menyatakan, wirausahawan pemula, banyak melalui proses jatuh dan bangun kembali dari usahanya.

“Ada banyak faktor penyebab, seperti dukungan dari orang tua, dan kebanyakan mereka tidak melakukan analisis risiko bisnis dan kegagalan tatkala terjun sebagai pengusaha. Itulah yang menjadi concern para Dekom,“ katanya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Iwan Sutiawan

didi
06-09-2018 06:58