Main Menu

KADIN: Rupiah Jeblok, Perlu Ada Antisipasi Jangka Menengah dan Panjang

Muchammad Egi Fadliansyah
08-09-2018 07:08

Ilustrasi - Mata uang Rupiah (Shutterstock/FT02)

 

Jakarta, Gatra.com - Kamar Dagang Indonesia (Kadin) melihat kondisi menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah banyak disebabkan oleh faktor eksternal. Dengan kata lain, meski saat ini pemerintah terus berupaya melakukan intervensi guna memperkuat rupiah, namun faktor eksternal yang kemudian paling menentukan.

 

Faktor eksternal itu berasal dari krisis yang menimpa Argentina, Turki, maupun perang dagang yang dilancarkan antar dua negara adidaya Amerika Serikat dan Cina. Sejumlah kondisi tersebut yang ikut mempengaruhi pasar keuangan di dalam negeri, hingga berimbas kepada melemahnya mata uang rupiah.

“Pada akhirnya, karena ini faktor eksternal, kita bisa seberapa jauh mengendalikan faktor eksternal ini. Krisis kali ini bisa kita katakan krisis atau tidak krisis sesungguhnya karena lebih banyak faktor eksternalnya. Ini yang harus kita perhatikan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin, Shinta Widjaja ketika ditemui Gatra di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/9).

Selanjutnya, Shinta mengungkapkan, Kadin beserta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sudah mengimbau para pengusaha agar Devisa Hasil Ekspor (DHE) dibawa pulang ke dalam negeri. Menurutnya, saat ini sudah 93,1% DHE yang kembali ke dalam negeri. “Masalahnya bagaimana bisa lebih banyak lagi dikonversi ke rupiah. Sekarang angkanya baru 15%,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus kepada antisipasi jangka pendek tapi mengabaikan perbaikan ekonomi jangka menengah dan jangka panjang. Padahal untuk jangka panjang dan menengah, pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Misalnya mendorong ekspor dan menciptakan iklim investasi yang bersahabat.

Oleh karena itu pemerintah sudah harus menyiapkan industrialisasi ke depan akan seperti apa, lalu bagaimana meningkatkan daya saing (competitiveness), dan mulai menjajaki untuk membuka pasar-pasar non tradisional.

“Ini semua kan perlu waktu. Tapi ini yang sesungguhnya akan menguatkan ekonomi dalam negerti kita. Kalau produk-produk industri kita tidak siap, seperti sekarang 70% bahan baku industri kita impor, ya harus diperbaiki,” tegasnya.



Reporter : M. Egi Fadliansyah
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Muchammad Egi Fadliansyah
08-09-2018 07:08