Main Menu

Maksimalkan Laba, Kementan Dorong Petani Bawang Merah Tanam Benih Biji

Flora Librayanti BR K
08-09-2018 12:27

Petani bawang merah (Dok. Kementan/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Diakui bahwa terdapat disparitas harga yang cukup jauh antara benih bawang merah umbi dan bawang konsumsi. Pola pembentukan yang terjadi saat ini yaitu, ketika harga bawang konsumsi mahal maka benih pun akan ikut dijual mahal. Sebaliknya, pada saat bawang konsumsi tidak mahal maka biasanya benih umbi pun berlebih. Hal ini membentuk suatu pola linear yang mengakibatkan harga bawang menjadi sangat fluktuatif.

 

Melihat kondisi tersebut, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mendorong petani bawang untuk menanam dari biji demi mengendalikan harga bawang agar tidak fluktuatif. Saat ini, harga bawang merah yang berfluktuatif disebabkan terbatasnya umbi benih bawang merah berkualitas.

Harga benih bawang merah biasanya maksimal 1,5 kali harga bawang merah konsumsi. Ini terjadi karena adanya penyusutan bobot selama di gudang sekitar 25% serta faktor biaya penyimpanan dan pemeliharaan selama di gudang. Hal inilah yang kadang-kadang membuat petani tergiur harga bawang merah konsumsi yang mahal, sehingga menjual calon benih yang dimiliki sebagai bawang merah konsumsi.

“Menyikapi hal ini, sejak 5 tahun yang lalu, Kementan sudah mulai memperkenalkan benih bawang merah asal biji. Namun untuk mengubah kebiasaan petani menanam benih umbi membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini disebabkan persemaian benih biji membutuhkan waktu 6 minggu, yang kemudian ditanam selama 2 bulan,” jelas Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi di Jakarta, Sabtu (8/9).

Dia menjelaskan menanam bawang merah dengan benih biji dapat membuat biaya usaha tani menjadi lebih murah. Sebab hanya membutuhkan 4 kg benih untuk pertanaman di lahan seluas 1 ha dengan harga benih Rp6 juta per ha. Jika dibandingkan dengan benih umbi yang harganya mencapai Rp35.000 per kg dan membutuhkan benih sebanyak 1,2 ton per ha. Tentu lebih menguntungkan jika petani menggunakan benih yang berasal dari biji.

“Biaya benih umbi mencapai 50% dari biaya usaha tani. Sehingga bila menggunakan benih biji maka biaya usaha tani menjadi lebih murah dan harga bawang merah konsumsi menjadi lebih murah,” kata Suwandi.

Menggunakan benih biji bawang, sambung Suwandi, petani akan mendapatkan tiga keuntungan. Pertama, biaya transportasi lebih murah karena berbentuk biji. Selanjutnya, benih bisa lebih lama disimpan dalam gudang penyimpanan bahkan maksimal mencapai dua tahun dengan catatan tidak terkena sinar matahari. Padahal dengan sistem konvensional, umbi hanya bisa disimpan antara 2 hingga 4 bulan.

Terakhir, biaya produksi jika bawang merah dipanen dalam bentuk bawang siap konsumsi menjadi lebih rendah. Jika menggunakan sistem konvensional setiap hektar lahan memerlukan sekitar 1,5 ton umbi dengan biaya di kisaran Rp45 juta. Bandingkan jika menggunakan metode pindah tanam hanya memerlukan 5 kilogram benih dengan biaya sekitar Rp10 juta.


“Kita harus bisa memutus mata rantai antara benih umbi dengan konsumsi, karena kalau harga bawang mahal, pasti benih umbi juga mahal. Jadi kalau benih biji cukup tidak ada keterkaitan antara harga benih umbi dengan umbi konsumsi. Keberhasilan ini tentunya peluang penyediaan benih biji dengan harga lebih murah dengan kualitas yang baik sehingga produktivitas kita lebih tinggi,” sebut Suwandi.

Dia menegaskan untuk mengatasi harga benih yang mahal pada bulan-bulan tertentu, pemerintah telah menumbuhkan penangkar benih di semua sentra bawang merah. Sehingga semua sentra dapat mandiri benih di lokasi masing-masing.

“Hal ini mengurangi kebergantungan benih dari Kabupaten Brebes, Cirebon, dan sentra lainnya di Pulau Jawa,” tambah Suwandi.

Saat ini varietas yang telah terdaftar adalah Bima Brebes, Sanren, Tuk-tuk, Lokananta, TSS Agrihorti 1, TSS Agrihorti 2. Keterlibatan produsen untuk penyediaan benih bawang merah biji sangat dibutuhkan.



Reporter: Dara Purnama
Editor: Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
08-09-2018 12:27