Main Menu

Sulit Tarik DHE, Jokowi Ogah Ubah Rezim Devisa Bebas

Hendry Roris P. Sianturi
08-09-2018 15:17

Ilustrasi (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Deputi III Kantor Staf Presiden, Denni Puspa Purbasari menegaskan bahwa Presiden Joko “Jokowi” Widodo belum mau merevisi rezim devisa bebas. Saat ini pemerintah memberikan keleluasaan bagi eksportir untuk menarik devisa hasil ekspor (DHE) mereka ke dalam negeri atau tidak.

 

“Mau mengkonversi atau tidak, atau mau menarik ke Indonesia atau ke luar, kita serahkan kepada masing-masing individu dan pengusaha,” kata Denni di Jakarta, Sabtu (8/9).

Denni menilai, banyak eksportir Indonesia masih membutuhkan uang dalam bentuk dolar untuk operasional perusahaan. Walaupun telah mengkonversi DHE ke rupiah, pengusaha akan kesulitan ketika membutuhkan dolar kembali untuk membeli bahan baku. “Karena itulah, kenapa kemudian kita sadar bahwa untuk pemain besar, mereka membutuhkan valas dalam waktu cepat. Kita tidak bisa paksa untuk kemudian simpan (dana) di sini,” katanya.

Apalagi, transaksi di pasar foreign exchange (forex/ valas) Indonesia hanya US$3 miliar per hari. Lebih kecil dibandingkan transaksi forex di Singapura per hari yang mencapai US$300 miliar atau Thailand yang ada di level US$10 miliar. Dengan kata lain, pasar valas di Indonesia ini sangat tipis.

Menurut Denni, Jokowi memahami dampak rezim devisa bebas bagi stabilitas rupiah dan peningkatan cadangan devisa. Hanya saja, permasalahan DHE bukan cara membuat rupiah stabil dalam jangka panjang. “Ya (Jokowi) pahamlah. Dia kan eksportir mebel. Presiden itu mengerti banget. Jadi jangan lihat casing beliau sederhana. Dia itu eksportir, jadi beliau mengerti,” katanya.

Jokowi juga belum menginstruksikan menteri terkait, untuk memberi insentif kepada eksportir agar mau menarik DHE ke dalam negeri. Pemerintah masih fokus pada reformasi struktural, jaminan investasi, dan menggenjot ekspor untuk menjaga stabilitas rupiah.

Sebaliknya, jika pemerintah memaksakan eksportir menarik DHE dan mengkonversikannya ke dalam rupiah, akan menyebabkan kekacauan berusaha di Indonesia. “Karena pelaku pasar juga butuh ketentraman. Kalau pemerintah sampai mewacanakan begitu, itu namanya sedikit maksain orang untuk menyimpan DHE di sini. Itu tidak bagus,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia, Tutuk Cahyono pernah mengatakan jika permintaan rupiah meningkat, maka nilai tukarnya akan terkerek. “Nilai tukar itu terkait supply dan demand. Kalau permintaan rupiah tinggi, maka nilai tukar menguat. Sementara kebutuhan dolar saat ini semakin tinggi. Dengan adanya konversi DHE ini, nilai tukar kita bisa naik,” katanya.

BI optimis penarikan DHE ke dalam negeri dapat meningkatkan cadangan devisa negara. Pasalnya sejak awal tahun sampai sekarang, cadangan devisa semakin tergerus. Cadangan devisa pada Januari 2018 sebesar US$131,9 milyar. Tiap bulan terus mengalami penurunan. Data per Agustus 2018, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 117,9 miliar.




Reporter: Hendry Roris Sianturi
Editor: Flora L.Y. Barus

 

 

Hendry Roris P. Sianturi
08-09-2018 15:17