Main Menu

Ancaman Krisis Moneter Global Masih Berlanjut, Berikutnya Giliran Pakistan

Flora Librayanti BR K
10-09-2018 16:17

Nilai tukar mata uang Rupee Pakistan (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Setelah Turki, Brazil, Afrika Selatan, dan Argentina, saat ini Pakistan juga sedang di ujung tanduk krisis moneter.

 

Jika kita cek level pertumbuhan ekonomi, pada 2017 lalu, ekonomi Pakistan yang naik 5,3% kondisinya serupa Turki yang tumbuh 7,4%. Keduanya malah naik lebih tinggi dibanding Indonesia yang ‘hanya’ 5,1%. “Tapi toh tetap kolaps juga,” sebut Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dzulfian Syafrian. “Jadi, tingginya pertumbuhan ekonomi tidak menjamin terbebas dari bahaya krisis moneter,” tegasnya.

Kenapa tingginya pertumbuhan ekonomi tidak menjamin satu negara bisa bebas dari ancaman krisis moneter? “Jawabannya simpel: karena pertumbuhan ekonominya Pakistan, sebagaimana Indonesia saat ini, dibangun di atas pasir. Dengan kata lain fondasinya rapuh. Tertiup angin sedikit pun bisa rubuh,” tambah kandidat Doktor Durham University Business School, Inggris tersebut dalam pernyataan yang diterima Gatra.com hari ini, Senin (10/9).

Sebagaimana Indonesia, perekonomian Pakistan juga sangat bergantung pada konsumsi barang-barang impor non-produktif dan pembangunan infrastruktur jor-joran yang berasal dari utang luar negeri. Alhasil, ketika dolar Amerika menguat seperti sekarang, cadangan dolar Pakistan semakin terkuras karena dipakai untuk menangkal pelemahan mata uang mereka.

Narasi ini, sebut pria yang akrab disapa Ijul tersebut, benar-benar mirip seperti yang sedang dialami Indonesia saat ini. Jika kita cek data di Bank Indonesia (BI), cadangan devisa Indonesia per 31 Agustus 2018 adalah US$117.927 juta. Bandingkan dengan jumlah cadangan pada Januari 2018 yang ada di level US$132.000 juta. Sejak Januari hingga sekarang, jumlahnya terus mengalami tren penurunan.

“Untungnya, layaknya tim sepakbola yang lebih tangguh, kita punya cadangan devisa yang lebih kuat dibanding Pakistan,” sebut Ijul.

Meskipun demikian, ia mengingatkan, Indonesia mesti terus waspada. Pasalnya, krisis moneter ini terus menular. Satu per satu negara terus bertumbangan karena cadangan dolar mereka terus terkuras.



Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
10-09-2018 16:17