Main Menu

Target Pemerintahan Jokowi dalam RAPBN 2019

Mukhlison Sri Widodo
10-09-2018 19:37

Sri Mulyani.(ANTARAnews/re1)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani beserta Kepala Bappenas/PPN Bambang Brodjonegoro, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dan Kepala BPS Suhariyanto, hari ini Senin (10/9) memenuhi undangan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI. Isu yang dibahan dalam rapat ini mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

 

Sri Mulyani memulai pemaparannya dengan kondisi perekonomian domestik selama tahun 2018. Dilanjutkan proyeksi untuk tahun 2019 yang menurutnya masih akan dipengaruhi beberapa kondisi.

"Situasi global seperti penyesuaian kebijakan moneter bank sentral AS, perang dagang antara AS dan mitra dagangnya, serta beberapa negara yang mengalami krisis mata uang," ujarnya kepada anggota Komisi XI yang diketuai Melchias Marcus Mekeng. 

Terkait RAPBN 2019, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Angka itu menurun 0,1% dibanding tahun 2018. 

Untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahin 2019, Pemerintah mematok asumsi nilai rupiah tahun depan berada di angka 14.400. Angka ini lebih lemah daripada tahun ini yakni 13.400.

Sementara laju inflasi kata Sri Mulyani,  pada tahun depan ditargetkan sama seperti tahun ini sebesar 3,5%. Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan ditargetkan meningkat 0,1% menjadi 5,3%. 

Harga minyak mentah tahun depan juga ditargetkan naik menjadi US$70 per barel dari yang sebelumnya US$48 per barel.

Namun, lifting minyak bumi diturunkan menjadi 750.000 barel per hari. Angka ini turun jika dibandingkan target tahun ini sebesar 800.000 barel per hari.  

"Sedangkan lifting gas justru naik menjadi 1,25 juta barel setara minyak per hari. Padahal tahun ini sebesar 1,2 juta barel setara minyak per hari," ujar Sri Mulyani.


Umaya Khusniah

Mukhlison Sri Widodo
10-09-2018 19:37