Main Menu

Peluang Ekspor Tanaman Hias terbula Lebar

Umaya Khusniah
12-09-2018 00:49

Pembudidaya ikan hias (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Sampai saat ini, petani florikultura masih belum bisa memenuhi semua permintaan pasar mancanegara. Artinya, potensi ekspor tanaman hias masih terbuka lebar.

 

 

Ketua Asosiasi Flori Kabupaten Sukabumi, Anas mencontohkan potensi pasar global kaktus cyclops yang baru 10 persen. Ekspornya baru mencapai 100 ribu pohon per tahun senilai 3 miliar.

Begitu juga dengan komoditas hanjuang kemoceng (Dracaena Compacta). Sukabumi baru bisa mengekspor 15 kontainer per tahun. Tiap kontainer memuat sekira 2.000 batang dan harganya Rp15 ribu per ikat.

Tanaman-tanaman hias ini diekspor ke sejumlah negara di Asia. Korea, Malaysia, Singapura, Bahrain, Oman, India, dan Arab Saudi. Beberapa negara di Benua Biru juga menjadi sasaran ekspor tanaman hias.

Contoh lain ekspansi komoditas lucky bamboo (Dracaena Sanderiana) dari Sukabumi yang cukup menggiurkan. Selain produktivitas tinggi, kreativitas perajin dan kualitas tanaman juga menjadi nilai jualnya.

Menurut Ketua Poktan Alamanda, Ahendrayana, pihaknya memiliki lebih dari 90 desain lucky bamboo. Tiap negara tujuan ekspor, memiliki selera desain berbeda. Misalnya, Malaysia, Singapura, dan Korea, lebih tertarik dengan model pagoda. Sedangkan Oman lebih cenderung suka olimpik.

Volume ekspor model pagoda sekitar 150 ribu pieces per tahun. Sementara model lain mencapai 140-150 ribu pieces per tahun. Nilai dari ekspor ini mencapai Rp6 miliar per tahun.

"Prospek tanaman hias menjanjikan sebab pangsa global tak terpengaruh dengan gejolak ekonomi. Malaysia, Singapura, tiap tahun pasti mereka pakai, karena ada kaitan dengan kepercayaan mereka," jelas Ahen.

Ahen mengatakan akan ada ekspor Dracaena jenis Pagoda 3/20 sebanyak 10 ribu buah dan jenis Pagoda 2/15 sebanyak 20 ribu buah ke India pada 15 September mendatang. Sebulan setelahnya, ia harus mengirim Dracaena jenis 3/20 sebanyak 10 ribu buah, 5.000 buah Ananas C, 500 buah Ananas A, 500 buah Guci A, dan 5.000 buah Curly ke Malaysia.

Ahen tidak menyangkal untuk menembus pasar internasional bukan perkara mudah. Namun semua itu terbantu oleh peran Kementerian Pertanian terutama Direktorat Jenderal Hortikultura. Kementerian memfasilitasi petani mulai dari bibit, packing house hingga transportasi.

"Semakin gede demand, semakin banyak petani yang turun, maka kami harapkan Ditjen Horti terus membina kami," ujarnya berharap.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, menyambut positif ekspor tersebut. Ia berharap sentra tanaman hias lain dapat mengikuti jejak petani di Sukabumi. "Ini kreativitas, di sana ada permintaan, ya dipenuhi dari sini, peluang bagus kayak gini kita cari," pungkasnya.


Umaya Khusniah

Umaya Khusniah
12-09-2018 00:49