Main Menu

Pengamat: Pelemahan Dolar Mendorong Rupiah Menguat Tipis

Flora Librayanti BR K
14-09-2018 18:02

Ilustrasi - Mata uang Dolar Amerika Serikat (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Indeks Dollar belakangan melemah. Alhasil, Rupiah diprediksi bergerak menguat. Dollar diperkirakan melemah di sekitar level 94.0- 94.5 terhadap mata uang kuat lainya.

 

Ekonom dari Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail menyebut kalau pelemahan tersebut didorong oleh rendahnya realisasi data inflasi Agustus di mana Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat hanya naik 0.2% (month-on-month,mom) di bawah ekspektasi analis sebesar 0.3% (mom).

“Selain itu tensi perang dagang antara AS-Cina mereda. Ini seiring keinginan Washington untuk kembali melakukan perundingan dengan Cina dalam beberapa hari ke depan untuk menghindari pengenaan tarif lanjutan sebesar USD$200 miliar terhadap impor barang Cina. Kondisi ini menurunkan minat investor terhadap dollar sebagai aset safe heaven,” jelas Ahmad di Jakarta, Jumat (14/9).

Sebelumnya, sejumlah media internasional memberitakan bahwa AS-Cina kembali berunding. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin dikabarkan telah mengirim undangan kepada sejumlah pejabat di Cina, termasuk Perdana Menteri Liu He, untuk berbicara soal isu-isu perdagangan.

Di sisi lain, kenaikan tingkat suku bunga yang cukup tajam oleh bank sentral Turki sebesar 625 basis poin (bps) menjadi 24% berhasil menaikkan mata uang Turki terhadap dollar sebesar 5% kemarin malam.

“Penguatan mata uang Turki tersebut dapat menjadi katalis positif bagi mata uang emerging market lainya termasuk rupiah. Pelemahan dollar indeks dan apresiasi mata uang lira diperkirakan dapat menjadi katalis positif bagi rupiah hari ini,” ungkap Ahmad.

Ia memprediksi rupiah kemungkinan menguat ke level Rp14.750/USD-Rp 14.850/USD.

Sebelumnya, DPR mengesahkan seluruh asumsi makro RAPBN 2019 yang diajukan pemerintah. Mulai dari pertumbuhan ekonomi 5,3%, inflasi 3,5%, nilai tukar Rp14.400 dan suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,3%. Sementara untuk lifting minyak dan harga minyak masih menanti hasil pembahasan Komisi VIII bersama Kementerian ESDM.

“Ekonomi tahun ini akan tumbuh 5,14%-5,21%. Pada kuartal II 2018 ekonomi tercatat tumbuh 5,27%. Pada kuartal III sendiri, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,13% hingga 5,25%. Pertumbuhan di kuartal III akan didukung oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB) alias investasi yang diproyeksikan tumbuh 6,7% sampai 6,9%,” jelas Menteri Keuangan, Sri Mulyani.


 

Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
14-09-2018 18:02