Main Menu

Menkeu: Perekonomian Indonesia Masih Dalam Momentum Menguat

didi
14-09-2018 18:36

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Dok.twitter/KemenkeuRI/RT)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menilai, laju perekonomian Indonesia tetap berada dalam momentum untuk melanjutkan penguatan di tengah proses pemulihan ekonomi dunia dari kondisi krisis 2008-2009.

 

 

"Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya masih dalam momentum menguat. Pertumbuhan ekonomi dunia di 2018 bisa 3,9% dan pada 2019 juga 3,9%," kata Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (14/9).

Menurutnya, tren perbaikan ekonomi global di 2018 tersebut merupakan fase pemulihan dari krisis yang terjadi pada 2008 dan 2009. Pada 2018 perekonomian sangat dinamis dibandingkan dua sampai tiga tahun terakhir.

Ia menegaskan, dinamika perekonomian global merupakan situasi yang menantang bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini kata Sri Mulyani, ditandai dengan normalisasi kebijakan di AS yang muncul dalam dua bentuk. Pertama, dengan menaikkan suku bunga. Kedua dengan mengurangi likuiditas ke negara lain yang sebelumnya dilakukan melalui kebijakan quantitative easing.

“Sudah sepuluh tahun, sekarang AS membaik. Maka, ada langkah menormalkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga dan mengurangi likuiditas," paparnya.

Berkaitan dengan itu, ia melanjutkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang stabil dalam beberapa tahun ke belakang mengalami tekanan di 2018. Pemerintah telah menetapkan nilai tukar rupiah (RAPBN 2019) sebesar Rp14.400, sedangkan Bank Indonesia memperkirakan Rp14.300-Rp14.700.

Kekuatan ekonomi Indonesia saat ini, antara lain tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dalam tiga tahun terakhir. Inflasi yang rendah selama tiga tahun beturut-turut menciptakan kestabilan yang sangat berharga.

"Pada Agustus 2018, Indonesia malah mencatatkan deflasi. Padahal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah di triwulan kedua dan masih berlanjut di triwulan ketiga tahun ini," ujar Menkeu.

Dalam RAPBN 2019, pemerintah menargetkan inflasi sebesar 3,5 persen dengan menjaga tiga komponen Indeks Harga Konsumen (IHK), yakni komponen harga pangan bergejolak (volatile food), harga barang yang diatur pemerintah (administered price) dan inflasi inti (core inflation).



Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Umaya Khusniah

didi
14-09-2018 18:36