Main Menu

Danareksa Perkirakan Ekonomi RI Tumbuh di Kisaran 5,1-5,2%

didi
19-09-2018 15:29

Damhuri Nasution (atmajaya.ac.id/yus4)

 

Jakarta, Gatra.com - PT Danareksa (Persero) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di 2019 hanya berkisar 5,1-5,2% atau lebih rendah dari asumsi pemerintah di RAPBN 2019 yang mencapai 5,3%.

Menurut Head of Economic Research Danareksa Research Institute, Damhuri Nasution, pada tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan sekitar 5,2-5,3%, sedangkan pada 2019 berkisar 5,1-5,2% dan pada 2020 sekitar 5,3-5,4% yang ditopang peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor.

"Beberapa pertimbangan pertumbuhan ekonomi tahun ini dan 2019 di antaranya ekspor dan investasi yang diproyeksi bertumbuh bagus, sejalan dengan ekspansi ekonomi dunia. Konsumsi rumah tangga pun diproyeksikan bertumbuh relatif stabil atau sedikit membaik,” katanya di Jakarta, Rabu (19/9).

Damhuri mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut masih lebih baik ketimbang realisasi di 2017 yang sebesar 5,07%. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi pada Semester I-2018 sebesar 5,17% yang ditopang peningkatan investasi dan ekspor.

Lebih lanjut dia menyebutkan, investasi diperkirakan bertumbuh lebih baik seiring dengan pembangunan infrastruktur, peningkatan rating dan perbaikan iklim investasi. "Konsumsi pemerintah juga diproyeksikan relatif stabil, seiring dengan upaya menyehatkan APBN," imbuhnya.

Terkait dengan kurs, kata Damhuri, saat ini nilai tukar rupiah masih berpotensi fluktuatif, akibat normalisasi kebijakan moneter dan ekspansi fiskal Amerika Serikat, kekhawatiran atas perang dagang AS-China dan kenaikan harga minyak dunia yang bisa meningkatkan current account deficit.

Dia menyebutkan, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-7day Reverse Repo Rate berpotensi kembali dinaikkan menjadi sekitar 5,75-6% di 2018 dan pada 2019 berkisar 5,5-6%.

“Rupiah masih mengalami tekanan di bawah nilai fundamental, karena faktor eksternal, tapi tekanan akan mereda pada 2019 dan 2020,” ucapnya.

Lebih lanjut Damhuri mengungkapkan, kebijakan moneter global cenderung ketat pada 2019 dan melonggar pada 2020, karena adanya perkirakan bahwa tekanan inflasi mereda dan pertumbuhan ekonomi mengalami moderasi.

"Dengan kenaikan suku bunga acuan AS, Fed Funds Rate (FFR) sebanyak dua kali pada 2019, berarti tidak seagresif di 2018, maka volatilitas pasar keuangan akan sedikit mereda," tutur Damhuri.

Dia menilai, upaya BI sudah tepat dalam meredam depresiasi rupiah, seperti menaikkan BI 7day repo Rate sebesar 125 basis poin yang diikuti kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN), sehingga investasi di SUN kembali menarik.

Selain itu, lanjut dia, BI juga melakukan dual intervention demi menjaga volatilitas rupiah dan likuiditas, sekaligus melakukan stabilisasi pasar SUN. "Sehingga, Danareksa memperkirakan tekanan terhadap rupiah dapat mereda untuk akhir 2018," ucap Damhuri.

Dia memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di 2018 sebesar Rp14.400 dan pada tahun depan sebesar Rp14.300. Namun, jelas dia, tekanan yang perlu diantisipasi adalah risiko eksternal terkait perang dagang AS-China, perang mata uang, geopolitik yang memanas, ekspansi fiskal AS yang pro-siklikal, serta normalisasi kebijakan moneter bank sentral global.

“Untuk domestik, kepemilikan asing yang masih tinggi pada obligasi pemerintah tetap menjadi risiko. Kemarau panjang juga berpotensi menyebabkan kenaikan tekanan inflasi pangan. Terakhir, Pilpres dan Pileg yang damai menjadi harapan pelaku pasar, baik domestik maupun asing," paparnya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Rosyid

didi
19-09-2018 15:29