Main Menu

Kuliner Jadi Bisnis Favorit di Diplomat Success Challenge

didi
21-09-2018 18:49

Ilustrasi.(Dok. Diploma sukses challenge/re1)

Jakarta, Gatra.com - Pendaftaran kompetisi wirausaha bertajuk Diplomat Success Challenge (DSC), akan segera berakhir pada 1 Oktober 2018. Tahun ini, kata Juri dan Dewan Komisioner (Dekom) DSC Helmy Yahya, pendaftar didominasi dari bisnis kuliner.

 

“Bidang kuliner selalu menjadi favorit karena sektor ini mudah digarap dan kekinian. Pelaku usaha tinggal memikirkan bagaimana mengemas dan menjual produk kulinernya.” Pola kerja sama bisa dilakukan secara daring, atau kerja sama dengan penyedia aplikasi macam Gojek atau Go Food,” kata Helmy dalam keterangannya, Jumat (21/9).

Helmy menambahkan, dibandingkan dengan bidang usaha lain seperti industri proses, kreatif, atau agro yang memerlukan pelatihan secara khusus, industri kuliner dapat dimulai dengan bermodalkan passion.

“Modal usahanya juga tidak perlu besar, karena jika dipasarkan secara daring, tidak akan butuh ekstra tenaga lagi,” ujar pemilik gelar master of Professional Accounting dari Universitas Miami ini.

Tahun 2018, pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sektor pariwisata di Indonesia. Di kompetisi DSC tahun ini, peserta dengan industri pariwisata belum tumbuh secara signifikan.

Menurut Helmy, butuh upaya lebih keras dan waktu yang panjang untuk mengembangkan sebuah daerah potensi wisata menjadi destinasi wisata. Pengembangan di sini, kata dia, berarti juga harus menjadikan daerah itu bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alamnya.

“Hal-hal tersebut tidaklah mudah dan harus dilakukan berbagai sektor sehingga dalam pengelolaan pariwisata, kelihatannya kurang 'seksi' peminat,” kata dia.

Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini mengatakan, untuk mengkurasi sampai lolos dalam penyaringan kompetisi DSC ini, para juri juga melihat kriterium model bisnisnya.

“Jadi ada di antara para peserta yang cara pemasaran produknya, sudah menggunakan sistem aplikasi. Ini yang membedakan seleksi DSC ke-9 tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya,” tutur dia.

Perbedaan model bisnis sebagai dampak terjadinya disrupsi di bidang ekonomi, lanjut Helmy, turut jadi pertimbangan para juri. Menurutnya ada pengembangan pariwisata secara hybrid, sehingga pemesanan dilakukan melalui sistem aplikasi.

“Ada juga pengembangan jasa usaha bengkel yang peminatnya juga harus mengunduh sistem aplikasinya. Itu sebabnya kemasan sektor atau bidang usaha, perlu ikut menyesuaikan,” lanjut Helmy.

Dalam kesempatan terpisah, juri lain DSC, Antarina S.F. Amir, yang merupakan License Holder, Founder, dan Deputy CEO Sekolah HighScope Indonesia juga menyampaikan, kalau ingin bisnisnya berkelanjutan, seharusnya peserta melihat peluang bisnis apa yang saat ini sedang diminati pasar. “Itu semua menjadi 'pekerjaan rumah' kami, para juri DSC,” ujarnya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Iwan Sutiawan

didi
21-09-2018 18:49