Main Menu

Rupiah Melemah Akibat Ketegangan Dagang Cina-AS, Keputusan Suku Bunga BI Jadi Sorotan

Flora Librayanti BR K
25-09-2018 10:19

Bank Indonesia (GATRA/Ardi Widi Yansah/awy)

Jakarta, Gatra.com - Investor memilih untuk waspada di awal pekan perdagangan ini setelah Cina membatalkan rencana negosiasi dagang dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) di akhir pekan kemarin.



“Sentimen pasar semakin memburuk di saat Presiden Donald Trump mulai memberlakukan tarif terhadap US$200 miliar barang Cina di Senin. Cina diperkirakan akan membalas dengan tarif terhadap US$60 miliar barang AS, sehingga penghindaran risiko sepertinya akan semakin tinggi dan semakin menekan Rupiah serta mata uang pasar berkembang lainnya,” ungkap Research Analyst ForexTime (FXTM), Lukman Otunuga di Jakarta, Selasa (25/9).

Walaupun sentimen pasar tetap sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi dagang global, fokus cukup besar juga akan tertuju pada rapat Fed pekan ini. Bank sentral AS tersebut diprediksi akan meningkatkan suku bunga pada September dan mungkin ditingkatkan kembali untuk keempat kalinya di Desember.

“Kenaikan suku bunga mendatang ini sudah sangat diperhitungkan dalam harga saat ini. Namun masih dapat memicu arus keluar modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia,” sebut Lukman.

Bank Indonesia (BI) akan menjadi pusat perhatian di Kamis. BI diperkirakan akan meningkatkan suku bunga untuk kelima kalinya sejak pertengahan Mei.

Kenaikan suku bunga mungkin dapat membantu Rupiah, namun penurunan berulang kali dalam beberapa pekan terakhir memastikan bahwa Rupiah tetap tertekan oleh berbagai faktor eksternal. Ketegangan dagang AS-Ciina memicu ketidakpastian dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed mendukung Dolar sehingga Rupiah tetap rentan mengalami kejutan negatif. Dari aspek teknis,USD-IDR dapat menantang level 14.900 di jangka pendek apabila Dolar terus diuntungkan oleh arus safe haven.

Di sisi lain, Pound mencoba untuk stabil setelah kehilangan semua kenaikan yang didapat pada pekan sebelum Jumat.

Sebelumnya, ada nuansa optimis mengenai potensi terobosan terkait Brexit di Rapat Salzburg di Jumat. Sayangnya, rapat ini ternyata justru meningkatkan potensi "Brexit tanpa kesepakatan" karena para pemimpin Uni Eropa menolak proposal Chequers Brexit Theresa May, dengan perbatasan Irlandia sebagai rintangan utama kesepakatan ini. Skenario Brexit tanpa kesepakatan merusak ketertarikan investor terhadap Pound, sehingga GBP-USD berpotensi menantang 1.3000 pekan ini.


 

Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
25-09-2018 10:19