Main Menu

Wujudkan Impian Kuliah di Luar Negeri Lewat Perencanaan Finansial yang Matang

Flora Librayanti BR K
25-09-2018 18:46

SVP & Head of Wealth Management, PT Bank HSBC Indonesia, Steven Suryana.(GATRA/Flora/re1)

Jakarta, Gatra.com – Bukan rahasia lagi kalau banyak orang mendambakan bisa kuliah ke luar negeri. Nilai dari pendidikan sarjana lulusan luar negeri dianggap tak hanya lebih mentereng tapi juga bisa menjamin kepastian karir.

 


“Kemampuan untuk mengakses teknologi dan informasi dengan kesediaan informasi  telah mengubah persepsi yang dimiliki generasi muda Indonesia mengenai tujaun edukasi mereka,” sebut SVP & Head of Wealth Management, PT Bank HSBC Indonesia, Steven Suryana di Jakarta, Selasa (25/9).


Riset terbaru dari HSBC yang bertajuk “Value of Education” menunjukkan bahwa 60% orang tua di Indonesia mempertimbangkan untuk mengirimkan anaknya untuk melakukan studi di luar negeri. Sayangnya, terjadi kesenjangan antara ekspektasi pengeluaran finansial anak dengan kenyataannya.


“Value of Education” adalah survei yang dilakukan HSBC secara global terhadap 10.478 orang tua dan 1.507 mahasiswa di 15 negara. Di Indonesia, survei ini direspon oleh 1.001 orang tua dan 100 mahasiswa.


Data di Indonesia menunjukkan bahwa prioritas pengeluaran anak yang diharapkan orang tua mencakup buku teks (70%), biaya kuliah (68%), teknologi pendukung (68%), uang saku (65%), serta alat tulis (65%). Faktanya, bagi anak, 5 pengeluaran terbesar per bulan adalah biaya kuliah, akomodasi, makanan, dan pembayaran tagihan. Pelajar di Indonesia rata-rata memerlukan Rp142,2juta per tahun untuk kebutuhan uang kuliah dan kehidupannya, sedangkan orang tua mereka hanya memperkirakan pengeluaran total anaknya berkisar di Rp84,4juta. Terdapat perbedaan sebesar Rp. 57,8juta untuk kebutuhan perkuliahan anak dengan dana yang telah disiapkan oleh orang tua mereka.

Steven menyebut tiga negara yang menjadi favorit orang Indonesia untuk berkuliah adalah Australia, Amerika Serikat, serta Inggris.


Demi menutupi kebutuhan perkuliahan ini, tidak sedikit dari orang tua yang rela melakukan beberapa pengorbanan. Sebanyak 69% orang tua yang disurvei mengurangi kesenangan mereka dalam rangka menghemat demi biaya kuliah anak, 54% menyatakan bahwa mereka mengambil pekerjaan tambahan demi menutupi kebutuhan tersebut, 48% mencari liburan hemat, sedangkan 47% mengurangi liburan, hobi, dan waktu pribadi. Dari sisi mahasiswa, 4 dari 5 orang (80%) menyatakan mereka melakukan pekerjaan sambilan selama masa kuliahnya guna memperoleh tambahan uang, serta mencari pengalaman.


“Kebutuhan kuliah yang tinggi menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kebanyakan orang tua di Indonesia. Sebanyak 34% orang tua yang anaknya kuliah khawatir tidak memiliki sumber daya keuangan yang baik untuk mendukung perkuliahan anak mereka. Selain itu 50% orang tua juga mempertimbangkan biaya kuliah di luar negeri akan lebih mahal dibandingkan di dalam negeri,” sebut Steven.


Ia lantas menyarankan untuk melakukan perencanaan finansial sedini mungkin. Bisa lewat asuransi, investasi, atau instrumen keuangan lainnya.


“Kuncinya adalah di perencanaan sejak dini, realistis dalam menghitung biaya, terapkan kebiasaan finansial yang baik serta berinvestasilah dalam keterampilan anak yang akan berguna di masa depan. Melalui perencanaan yang tepat, maka impian untuk menyekolahkan anak ke luar negeri bukanlah hal yang mustahil,” kata Steven optimis.



Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
25-09-2018 18:46