Main Menu

INDEF : Suku Bunga BI diprediksi Naik 25 Basis Poin

Birny Birdieni
26-09-2018 10:32

Ekonom INDEF, Abra Talattov (GATRA/Birny/AR)

 

Jakarta, Gatra.com- Ekonom INDEF, Abra Talattov memprediksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan BI 7 days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) hingga 25 basis poin (bsp).

"Ada potensi akan menaikkan suku bunga moderat sebesar 0,25%, normal seperti sebelumnya," ungkap Abra kepada Gatra.com, Selasa (25/9).

Terakhir pada Rapat Dewan Gubernur 15 Agustus lalu, BI menaikkan suku bunga sebesar 25 bsp menjadi 5,5%. Sehingga pada RDG Rabu (26/9) hingga Kamis (27/9) ini diperkirakan akan naik menjadi 5,75%.

Upaya BI sebelumnya belum bisa membendung pelemahan rupiah akan dollar. Berdasarkan kurs JISDOR per Rabu (26/9) nilai tukar rupiah akan dolar AS bertengger pada Rp14.938,- per US$.

Abra menyebut bahwa nilai rupiah masih akan tertekan. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu, terutama hasil Federal Open Market Committee (FOMC) yang kemungkinan akan membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Poin lainnya, perang Cina-AS yang memanas juga akan memperkeruh itu. Seperti diketahui, Amerika Serikat baru saja mengenakan tarif baru pada 6.000 barang-barang Cina senilai US$200 miliar.

Pajak impor akan berlaku efektif pada 24 September dimana mulai dari 10% menjadi 25% pada awal tahun mendatang. Terkecuali bila kedua negara setuju untuk sebuah kesepakatan. 

Hal lain dalam hal defisit neraca perdagangan pada Agustus 2018 menurun menjadi US$1,02 miliar. "Pemerintah harus genjot ekspor di sisa waktu hingga akhir tahun ini," ungkapnya.

Lalu harga jual miyak mentah dunia yang menembus US$80 per barel untuk jenis Brent kontrak November juga akan semakin menekan pemerintah, dalam hal Badan Usaha Milik Negara, seperti Pertamina dan PLN.

"Dengan kenaikan ini menurut sensitivitas APBN, pemerintah masih bilang surplus, lebih banyak penerimaan dari migas daripada belanja yang naik," ungkap Abra.

Namun, menurut Abra, secara makro impor migas yang naik ini akan menjadi beban BUMN. "Sehingga beban yang ditanggung BUMN naik dan belanja subsidi akan membengkak," ungkapnya.

Lalu, lanjut Abra, ke efek rupiah maka impor migas akan makin deras. Sehingga defisit transaksi neraca berjalan yang diharapkan akan ditekan dibawah 2% pun akan sulit.

"Ini tergantung pemerintah sejauh mana tekan konsumsi BBM dan belanja subsidi. Serta alokasinya supaya tidak berlebihan karena akan tekan defisit fiskal," pungkasnya.


Birny Birdieni

Birny Birdieni
26-09-2018 10:32