Main Menu

RDG BI Perlu Naikkan Suku Bunga Acuan

Umaya Khusniah
26-09-2018 13:41

Ilustrasi inflasi (Shutterstock/re1)

 

Jakarta, Gatra.com - Depresiasi Rupiah yang cukup tajam hingga hampir menyentuh titik Rp15.000 dari akhir Agustus hingga awal September. Namun kini tekanan terhadap Rupiah saat ini sudah relatif mereda. Pelemahan ini didorong oleh tekanan global yang datang dari sektor eksternal.

Diantaranya berlanjutnya efek domino krisis di beberapa negara berkembang, mulai dari Turki, Argentina, hingga Afrika Selatan, mendorong investor untuk mencari aman dan keluar dari negara-negara berkembang. Tekanan lain berasal dari eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali membawa dampak negatif terhadap stabilitas Rupiah.

Menurut Febrio N. Kacaribu, Kepala Kajian LPEM FEB UI, konsistensi dan kredibilitas Bank Indonesia dalam mempertahankan nilai tukar cukup kuat.

"Sehingga kami melihat bahwa Indonesia tidak akan menghadapi episode depresiasi yang signifikan seperti Argentina, Turki, maupun Afrika Selatan," ujarnya melalui rilis yang diterima Gatra.com pada Rabu (26/9).

Meski demikian masih tingginya potensi tekanan eksternal dan posisi neraca transaksi berjalan yang terus negatif membuat BI perlu terus mengantisipasi potensi gejolak di pasar. Bank Indonesia bisa kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.

Deflasi Bulanan di Bulan Agustus, Inflasi Tahunan Terjaga Stabil dan Rendah

Seperti tren di bulan Juli, inflasi hanya meningkat sangat tipis di bulan Agustus. Inflasi umum dan inti bulan Agustus masing-masing tercatat sebesar 3,20% dan 2,90% (y.o.y), hampir tidak berubah dibanding inflasi bulan Juli, yang tercatat sebesar masing-masing 3,18% dan 2,87% (y.o.y).

Walaupun inflasi inti bulanan masih terjaga rendah dan stabil pada tingkat 0,30% (mtm), terjadi deflasi umum sebesar 0,05% (mtm). Hal ini relatif normal, mengingat deflasi pada bulan kedua setelah Idul Fitri terus terjadi tiap tahun sejak 2015. Ini sebagai dampak dari normalisasi harga bahan pangan, di mana penurunan harga komponen harga bergejolak mencapai 1,24% (mtm) di bulan Agustus.

"Tingkat harga yang stabil dan rendah menggambarkan kondisi perekonomian yang masih relatif terjaga," katanya lagi.

Meskipun terdapat beberapa titik lemah, seperti neraca transaksi berjalan dan porsi utang luar negeri swasta, kondisi fundamental Indonesia saat ini masih cukup baik relatif terhadap negara-negara berkembang Asia lainnya.

"Konsistensi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian domestik diperkirakan dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1-5,2 persen pada kuartal mendatang dengan tingkat inflasi yang tetap stabil dan rendah," katanya.


Umaya Khusniah

Umaya Khusniah
26-09-2018 13:41