Main Menu

Bank Dunia Serukan Peningkatan Perlindungan Sosial bagi Para Pekerja

Flora Librayanti BR K
12-10-2018 13:53

Presiden Kelompok Bank Dunia, Jim Yong Kim (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Wisnu Widiantoro/jh)

 

Nusa Dua, Gatra.com - Teknologi tidak hanya mengubah cara kerja orang, tetapi juga istilah tempat mereka bekerja, menciptakan lebih banyak pekerjaan non-tradisional dan jangka pendek. Hal tersebut tertuang dalam Laporan dari Bank Dunia bertajuk "World Development Report 2019: The Changing Nature of Work".

 

“Ini membuat beberapa pekerjaan lebih mudah diakses dan fleksibel, tetapi menimbulkan kekhawatiran tentang ketidakstabilan pendapatan dan kurangnya perlindungan sosial,” sebut Presiden Kelompok Bank Dunia, Jim Yong Kim dalam sesi diskusi di rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Empat dari lima orang di negara berkembang tidak pernah tahu apa artinya hidup dengan perlindungan sosial. Dengan dua miliar orang yang bekerja di sektor informal, tidak terlindungi oleh pekerjaan berupah yang stabil, kesejahteraan sosial, atau manfaat pendidikan, maka pola kerja baru menambah dilema yang mendahului gelombang teknologi terbaru.

“Menyesuaikan diri dengan perubahan sifat pekerjaan membutuhkan perlindungan sosial yang ditingkatkan. Cara-cara baru untuk melindungi orang, tanpa memandang status pekerjaan sangat diperlukan,” tegas Kim.

Laporan di atas menantang pemerintah untuk lebih memperhatikan warganya serta menyerukan jaminan perlindungan sosial minimum yang dijamin secara universal. Inklusi sosial penuh akan mahal, sebut Kim, tetapi dapat dicapai dengan reformasi dalam regulasi pasar tenaga kerja di beberapa negara dan, secara global, perombakan panjang kebijakan perpajakan.

Dengan batas-batas perusahaan yang melampaui batas dan aset fisik, lebih mudah untuk mengalihkan keuntungan ke yurisdiksi pajak rendah, yang berarti miliaran dolar tidak terlacak. Laporan ini meminta pembaruan sistem pajak internasional, dengan mempertimbangkan ekonomi digital global.

Perusahaan digital, dengan aset nyata yang relatif sedikit, yang terus meningkat dan tumbuh, pemotongan pajak juga menjadi lebih relevan. Pola perpajakan saat ini mengungkap ketidaksesuaian yang besar, terutama antara negara-negara miskin dan kaya. Negara-negara berpenghasilan tinggi mengumpulkan bagian yang jauh lebih besar dari output nasional mereka dalam pajak langsung, sementara negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lebih mengandalkan pajak konsumsi dan perdagangan.


 

Reporter: G.A. Guritno
Editor: Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
12-10-2018 13:53