Main Menu

Rupiah Anjlok, Menteri Rini Ingatkan BUMN untuk Lakukan Hedging

Januar
22-09-2015 20:37

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus melemah (ANTARA/Fanny Octavianus)

Jakarta, GATRAnews - Menteri BUMN Rini Soemarno meminta para direktur keuangan perusahaan milik negara tidak ragu dalam melakukan lindung nilai alias hedging valas sebagai salah satu cara menghadapi tekanan meningkatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat. "Dengan kondisi Rupiah yang tertekan seperti saat ini, harus pandai-pandai menjaga nilai tukar valuta asing," kata Rini saat peresmian CFO BUMN Forum "Sinergi Bagi Ekonomi Negeri", di Gedung Pertamina, Jakarta, Selasa (22/9).

Menurut Rini, dirinya mendorong BUMN besar terutama yang membutuhkan dolar dalam jumlah besar untuk operasionalnya melakukan hedging internal, seperti PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero) dan termasuk PT Garuda Indonesia Tbk. "Saya lebih senang kalau mereka melanjutkan program kebijakan internal hedging, sehingga dapat mengamankan diri ketika valas mengalami gejolak," ujar Rini.

Menurutnya, Pertamina dan PLN dua BUMN yang menggunakan devisa terbesar diantara seluruh perusahana milik negara. Pertamina membutuhkan valas sekitar US$ 60-80 juta per hari, sedangkan PLN membutuhkan sekitar US$ 20 juta per hari. "BBM  ada yang impor, PLN juga butuh dolar untuk operasional pembangkit," ujarnya.

Untuk itu tambah Rini, ke depan kedua perusahaan ini diharapkan menjadi penyumbang devisa terbesar. "Jangan (Pertamina dan PLN) itu pengguna devisa, tapi ke depan harus menjadi penyumbang devisa bagi negara," kata Rini.

Selain Pertamina, PLN dan Garuda, BUMN lain yang berorientasi ekspor juga menjadi prioritas untuk dapat menghasilkan devisa yang lebih besar terhadap negara. "PT Perkebunan Negara (PTPN) harus mampu meningkatkan ekspor tidak lagi CPO tetapi harus dalam barang jadi ke luar negeri. Telkom melalui anak usahanya Telkomsel menjual kartu telepon di luar negeri, dan lainnya," kata Rini.

Untuk itu dijelaskan Rini, para CFO BUMN harus mampu memanfaatkan peluang dengan melakukan sinergi antar perusahaan milik negara. "Komunikasi sesama BUMN terutama ketika membeli dolar harus terus dijalin, sehingga tidak menggoncang pasar," ujarnya. 


Reporter: Januar Rizki

Editor: Nur Hidayat

Januar
22-09-2015 20:37