Main Menu

Demo Naik Mobil Mewah, Geram BUMN Tak Kaget dengan Kesejahteraan Pekerja SP JICT

didi
01-08-2017 10:32

Sejumlah pekerja dari Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SPJICT) melakukan unjuk rasa di depan gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (31/7). (Antara/Syailendra Hafiz/AK9)

 

ng>Jakarta, GATRAnews - Tingkat kesejahteraan Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) sudah jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Di samping mendapat status tertinggi di Indonesia, gaji mereka juga menjadi yang tertinggi di Asia.

 

Upah terendah untuk junior staff saja, menurut Koordinator Gerakan Antimanipulasi (Geram) BUMN, Andianto, mencapai lebih dari Rp 35 juta per bulan. Sementara untuk level senior manager, lanjutnya, lebih fantastis lagi Rp 133 juta per bulan atau Rp 1,6 milyar per tahun di luar non cash.

 

Selain data gaji yang sudah beredar luas, dapat dilihat juga pada demonstrasi para pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja JICT (SP JICT) ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 27 Juli 2017. Terlihat mobil mewah Alphard digunakan dan ditumpangi oleh beberapa anggotanya yang ikut berdemo. Terlihat pula ada beberapa pekerja yang menggunakan ponsel dan tas seharga belasan juta rupiah.

 

Andianto mengaku tak kaget dengan kesejahteraan yang sudah didapat oleh pekerja JICT.

 

"Kami tidak kaget pekerja JICT mampu membeli itu semua. Yang membuat kami kaget dan tak habis pikir dengan upah sebesar itu (cash dan non cash) mereka masih saja kurang dan bahkan akan mogok kerja 3-10 Agustus karena kemauannya tak dituruti oleh perusahaan", katanya di Jakarta, Selasa (1/8).

 

Menurutnya, para pekerja JICT sudah mendapat bonus sesuai Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Namun masih saja menuntut tambahan bonus yang tidak pernah dijanjikan pihak perusahaan.

 

"Mereka selanjutnya menuntut kenaikan 100 persen lebih kesejahteraan pada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dan menuntut dana Program Tabungan Investasi (PTI) dicairkan padahal tak memenuhi syarat yang di sepakati bersama. Lebih baik mereka mengurungkan niatnya dan memberi kontribusi positif demi menjaga ekonomi nasional berjalan dengan optimal," tuturnya.


Reporter: Didi Kurniawan 

didi
01-08-2017 10:32