Main Menu

Faisal Basri: Logika Holding BUMN Tambang Pemerintah Keliru

didi
28-11-2017 13:18

Faisal Basri (Dok. GATRA/Dharma Wijayanto/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Ekonom Faisal Basri menilai rencana pemerintah dalam pembentukkan induk usaha (holding company) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan keliru. Hal tersebut menurutnya karena PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dinilai tidak cocok bersinergi ke dalam holding BUMN pertambangan apalagi menjadi induk. Inalum lebih tepat bersinergi dengan perusahaan pemakai aluminium seperti di industri otomotif dan pesawat terbang.



"Sinerginya di mana? Enggak ada, idealnya kalau mau cepat, Inalum sinergi dengan pengguna aluminium seperti automotif dan pesawat terbang," ujar Faisal dalam keterangannya kepada Gatra.com, Selasa (28/11).

Dia menjelaskan, Inalum juga sebenarnya bukan merupakan perusahaan penambangan, melainkan pengolahan di sektor hilir. "Khusus tambang, Inalum bukan tambang tapi industri itu hilir. Inalum produksi aluminium di hilir industri, bukan tambang aluminium," tuturnya.

Selain itu, lanjut Faisal, holding BUMN di sektor manapun harus dicermati terlebih dulu. Sehingga bisa sesuai dengan konsep dan tujuannya super holding yang ingin meniru Temasek di Singapura.

Ekonom Universitas Indonesia ini menilai, rencana pemerintah membentuk holding tidak terlepas dari upaya membentuk superholding untuk dapat bersaing dengan Temasek Holdings, Singapura dan Khazanah Nasional Berhad, Malaysia.

“Kalau superholding kita kan sebenarnya sudah ada yang namanya Kementerian BUMN. Kalau sekarang holding hanya untuk utang," tegas Faisal.

Ia mengatakan, sejauh ini rencana holding pertambangan juga memicu kecurigaan di masyarakat bahwa nantinya perusahaan BUMN yang menjadi anak usah Inalum tidak lagi sebagai perusahaan BUMN. "Masyarakat khawatir perusahaan-perusahaan itu tidak bisa diawasi lagi oleh DPR dan Kementerian Keuangan, karena dia anak usaha lewat inbreng saham," ujarnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, holding semen diniliai lebih masuk akal, karena produk yang dihasilkan bersifat homogen. "Yang keliru juga sebenarnya ada pada holding PTPN (PT Perkebunan Nusantara) yaang mengalami kerugian terus. Jadi, tidak perlu kemana-mana untuk membesarkan perusahaan tambang, ikuti basic-nya saja," tutup Faisal.

 Holding perusahaan tambang nantinya akan menyatukan PT Timah (Persero), PT Aneka Tambang (Persero) dan PT Bukit Asam (Persero). PT Inalum (Persero) akan menjadi induk holding.




Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Rosyid

didi
28-11-2017 13:18