Main Menu

Pakar Energi UGM: Holding BUMN Migas Jangan Terburu-buru

Cavin Rubenstein M.
22-01-2018 07:30

Ilustrasi - Pertamina. (Dok. GATRA/Abdul Malik/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Pembentukan Holding BUMN Migas adalah keniscayaan. Mereka akan makin kuat dan leverage akan makin tinggi. Namun pembemtukannya jangan terburu-buru. Melainkan harus diawali dengan merger atau akuisisi.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi menyarankan agar Kementerian BUMN tidak gegabah dalam pelaksanaan holding BUMN migas ini, apalagi melalui jalan pintas dengan skema inbrenk.  


"Proses holding harus diawali dengan proses integrasi BUMN sejenis, melalui merger atau akuisisi," kata Fahmi dalsm keterangannya kepada redaksi Gatra.com. 


Lebih lanjut, Fahmi bilang, rencana akusisi Pertagas oleh PGN dalam proses pembentukan holding Migas dinilai sudah tepat. "Proses serupa harus dilanjutkan dengan integrasi anak-anak perusahaan PGN dan Pertamina sejenis, baik usaha di hulu, midterm, maupun hilir," imbuhnya. 


Dengan begitu, kata Fahmi, setelah proses integrasi diselesaikan, pada saat itulah Perusahaan Holding dibentuk. "Opsinya, menunjuk Pertamina sebagai Perusahaan Induk Holding. Alternatifnya, membentuk Perusahaan baru sebagai induk holding, yang membawahi anak-anak Perusahaan, termasuk Pertamina dan PGN, " katanya lagi. 


Selanjutnya, Fahmi menambahkan, Saham Perusahaan induk holding harus 100% dikuasai negara. Sedangkan, anak perusahaan bisa go public maksimal 49% share down. Mayoritas 51% harus tetap dikuasai BUMN. 



Reporter: MEF 

Editor     : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
22-01-2018 07:30