Main Menu

MAKI Laporkan Dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang Dana Pensiun Pertamina Rp 599 Milyar

Rohmat Haryadi
09-03-2018 15:10

Ilustrasi (Dok. Dapen Pertamina/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Penyidik Kejagung RI pekan lalu menetapkan tersangka baru, Betty Halim dalam perkara Korupsi Kegiatan Penempatan Investasi Pengelolaan Dana Pensiun Pertamina tahun 2013-2015. Sebelumnya Kejagung telah menyidangkan di pengadilan Tipikor atas Muhammad Helmi Kamal Lubis yang divonis penjara 5 tahun  6 bulan, dan uang pengganti Rp46 Milyar, dan menetapkan tersangka Edward S. Soeryadjaya.

 

Bahwa atas peran Betty Halim yang begitu dominan mengatur terjadinya dugaan korupsi Dapen Pertamina, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengajukan permintaan dikenakan Tindak Pidana Pencucian Uang terhadap Betty. "Hal ini diperkuat hasil audit BPK dan fakta hukum persidangan dimana terdapat peran Betty Halim mengatur komisi atas transaksi pembelian saham, memindahkan uang ke rekening lain dan membelanjakan uang untuk kepentiangan diluar yang seharusnya," kata Boyamin Saiman, Koordinator MAKI.

MAKI meminta Betty Halim dijerat dengan Pasal 3 dan/atau 4 UU No. 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Pertimbangannya hasil audit BPK, dan fakta hukum persidangan dapat disimpulkan Betty dan Helmi terbukti membelanjakan, mengalihkan, dan tindakan lainnya terhadap harta yang terbukti merupakan hasil Tindak Pidana Korupsi, harta tersebut dialihkan dalam bentuk pembelian sejumlah asset apartemen, saham, dan bentuk lainnya. "Sehingga tindakan tersebut dapat memenuhi unsur pada Pasal 3 dan/atau Pasal 4 UU No. 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)," katanya.

"Bahwa laporan ini kami lakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengembalikan Kerugian Negara Republik Indonesia akibat Tindak Pidana Korupsi ini secara maksimal," tegas Boyamin. Peristiwanya berdasarkan fakta persidangan Muhamad Helmi Kamal Lubis, yang tertuang dalam Putusan Nomor : 107/PID.SUS/TPK/2017/PN.JKT.PST, halaman 363 sampai dengan 365, dinyatakan  pada pertengahan tahun 2014, Helmi mengundang Betty ke Kantor Dana Pensiun Pertamina dan dalam pertemuan tersebut meminta informasi tentang saham Sugih Energi (SUGI).

Betty mengenalkan Helmi dengan Edward S Soeryadjaya di Jalan Teluk Betung No. 38, samping Grand Indonesia dalam pertemuan tersebut Edward mengajak agar Dana Pensiun Pertamina membeli saham SUGI dengan harapan Dana Pensiun Pertamina sebagai salah satu pemegang saham di PT. SUGIH ENERGI Tbk.

Pada 28 November 2014, Helmi membuka rekening Dana Pensiun Pertamina pada PT. Millenium Danatama Sekuritas dengan disepakati negosiasi fee transaksiyang dilakukan antara Helmi dan Betty. Awal Desember 2014 terjadi negosiasi, saat pembelian pertama saham SUGI antara Betty dengan Helmi dimana Dana Pensiun Pertamina dalam membeli Saham SUGI dapat discount minimal 25%.

Helmi meminta fee 5% - 8% setiap transaksi pembelian Saham SUGI oleh Dana Pensiun Pertamina kepada Betty. Di persidangan terungkap fakta Betty mempunyai hubungan bisnis dengan Edward S Soeryadjaya sejak  25 Oktober 2012 telah menjaminkan Saham SUGI sebanyak 23.618.700.866 Lembar Saham kepada PT. Millenium Danatama Sekuritas untuk keperluan pendanaan/financing yang dikendalikan PT. Millenium Danatama Sekuritas.

MAKI melaporkan kepada Kejaksaan Agung untuk menindak Betty dengan pasal pencucian uang terhadap kasus yang menurut MAKI merugikan negara Rp599 milyar itu.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
09-03-2018 15:10