Main Menu

Menteri Rini Ingin 2019 Tak Ada BUMN Merugi 

Mukhlison Sri Widodo
12-04-2018 17:15

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarmo menargetkan akhir tahun 2019 tidak ada lagi BUMN yang merugi. (ANTARA/M N Kanwa/RT)

Yogyakarta, Gatra.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarmo menargetkan akhir tahun 2019 tidak ada lagi BUMN yang merugi. 

 

Rini mengatakan, pada 2017 dari 24 perusahaan yang merugi sejak dirinya menjabat menteri sejak 2014,  hingga kini ada 13 BUMN yang masih merugi.

"Keuntungan BUMN pun naik 30% dari sebelumnya sekitar Rp 148 trilyun menjadi Rp 183 trilyun pada akhir 2017. Aset yang tadinya Rp 4.500 trilyun di akhir 2017 menjadi Rp. 7000 trilyun,” kata Rini, Kamis (12/4), di Gedung Magister Manajemen UGM, DI Yogyakarta.

Di UGM, Rini memberi kuliah umum Executive Series yang bertajuk Nurturing and Managing Leader di hadapan mahasiswa program magister manajemen.

Menurut Menteri Rini, pencapaian BUMN itu memang pekerjaan yang tidak mudah, apalagi menjadikan perusahaan plat merah tidak merugi. Salah satu caranya dengan menyamakan visi dan pemikiran para direksi BUMN. 

Rini menyebut, saat mulai menjabat menteri, kondisi keuangan 143 BUMN yang bergerak di 13 sektor tidak dalam kondisi bagus, bahkan ada yang merugi hingga puluhan tahun.

“Dalam 3,5 tahun, saya mendorong agar para direksi mengelola BUMN secara transparan dan akuntabel serta memberikan pelayanan kepada masyarakat," lanjutnya.

Rini mengingat, saat itu tantangan terberatnya menyatukan BUMN  dalam satu pemikiran. Sebab, selama ini, BUMN-BUMN itu berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, Rini mengatakan bahwa ia tidak hentinya-hentinya berpesan pada direksi untuk memiliki mindset bahwa BUMN adalah aset negara dan menjadikan BUMN sebagai  agen pembangunan bangsa. Karena itu BUMN harus dikelola dengan baik. 

Rini pun tidak segan menerapkan aturan agar para direktur selalu terjun ke masyarakat dan selalu bepergian menjalankan tugas dengan naik moda tranportasi kelas ekonomi. 

Meski sempat diprotes, kata Rini, para direksi akhirnya mafhum karena ia sendiri juga menerapkannya.

“Saya pernah mengajak para direktur bank merasakan naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Tasikmalaya. Ada direktur yang berusaha tidur, karena tidak terbiasa akhirnya jatuh,” kenang Rini.

Bagi Rini, apabila para direktur BUMN naik mobil mewah lalu bepergian  dengan kereta api kelas eksekutif, maka bagaimana mungkin sang direktur bisa merasakan pentingnya meningkatkan layanan ke masyarakat apalagi menyejahterakan masyarakat miskin.

Di depan mahasiswa Rini menegaskan tugas utamanya tidak hanya mengelola perusahaan negara menjadi lebih baik, namun sesuai instruksi Presiden agar BUMN ikut berperan dalam pembangunan infrastruktur. 

“Tantangan yang diberikan Presiden adalah membangun jalan tol, membangun listrik 35 ribu MW dan membangun pelabuhan dan bandara,” katanya.

Di akhir tahun 2014, kata Rini, Indonesia hanya memiliki pembangkit listrik 46 ribu megawatt dengan panjang transmisi 40 ribu kilometer dengan tingkat elektrifikasi 28 persen. 

Akhir 2019, ditargetkan bisa melakukan elektrifikasi hingga 98 persen dan tersedianya listrik untuk industri.

“Kami juga  diminta dalam lima tahun membangun 35 ribu megawatt,  transmisi 46 ribu kilometer, sampai tahun depan panjang transmisi harus 86 ribu km,” ujarnya.

Tugas itu sangat berat, namun Rini mengaku bersyukur target tersebut sedikit bisa tercapai dengan menggerakkan  BUMN untuk terlibat.

“Akhir tahun ini jalan tol Merak hingga Probolinggo dan jalan tol Bakaheuni- Palembang akan tersambung,” katanya.

Pakar Manajemen UGM T. Hani Handoko yang menjadi pemandu dalam kuliah umum ini menyebutkan Rini merupakan pejabat yang memiliki kemampuan strategi bisnis yang baik.

"Ini tidak terlepas dari pengalaman beliau sebelumnya sebagai Presdir Astra Indonesia," kata Hani.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison Sri Widodo
12-04-2018 17:15