Main Menu

Manajemen Tak Profesional, Serikat Pekerja PT Garuda Ancam Mogok

Wem Fernandez
02-05-2018 15:47

Konfrensi Pers Serikat Bersama (Sekber) PT Garuda Indonesia terdiri atas Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (Sekarda). (GATRA/Wem Fernandez/RT)

 

Jakarta, Gatra.com - Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) mengancam mogok dari perusahan. Sejumlah alasan mulai dari tidak profesionalnya manajemen PT Garuda Indonesia, kondisi kinerja keuangan yang merosot turun, hingga jumlah direksi perusahaan yang tidak sesuai dengan undang-undang menjadi alasan mogok tersebut.


"Kami sangat sadar kalau mogok akan lebih parah, itu kami sadar. Tetapi sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja, mogok adalah hak dasar dari pekerja. Kalau kami tidak didengar maka ini (Mogok) legal. Kami tidak menginginkan mogok, tapi kami bisa," tegas Ketua Umum Sekarga, Ahmad Irfan Nasution dalam Konfrensi Pers di Jakarta, Rabu (2/5).

Jumlah Direksi Garuda juga menjadi salah satu persoalan yang menyebabkan peningkatan biaya organisasi. Pada 2015 lalu direksi perusahaan plat merah itu berjumlah tujuh orang, 2016 berjumlah delapan orang dan 2017 berjumlah sembilan orang.

"Kalau standar airline lima saja cukup. Tapi karena kita mengutamakan service maka ada Direktur Service. Nah sekarang jumlahnya 9 orang. Misalnya Direktur Kargo. Untuk apa itu? Unit kargo harusnya dipimpin oleh pejabat setingkat vice president karena Garuda tidak memiliki pesawat khusus kargo. Dengan dipimpin oleh seorang direktur sejak 2016 kerja direktorat kargo tidak meningkat dan hanya peningkatan biaya organisasi," kata dia.

Sementara itu menurut Captain Erik Ferdinanad, salah satu pengurus APG menyebutkan, kegagalan dalam perubahan sistem penjadwalan crew yang diimplementasikan pada November 2017 menyebabkan sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan. Puncak dari persoalan ini terjadi awal Desember 2017 dan terus terjadi hingga saat ini.

"Apalagi setiap weekend kita delay gila-gilaan, pembatalan penerbangan luar biasa. Dulu kita sangat bangga karena jadwal penerbangan on schedule, tapi sekarang?" terang dia.

Lebih jauh, peningkatan pendapatan usaha penjualan tiket penumpang tidak mampu mengimbangi beban usaha karena ketidakmampuan Direktur Marketing dan IT dalam membuat strategi penjualan produk. Hal ini dapat dilihat pada penurunan rata-rata harga jual tiket (Passanger Yield) penumpang pada 2017 dibandingkan 2016. Laporan Tahunan 2017 PT Garuda di passanger yield untuk 2016, USD 6, 93. Sedangkan 2017, USD 6,71. Terjadi penurunan -3.17%.

Dengan persoalan ini Sekarga dan APG yang tergabung dalam Serikat Bersama meminta kepada pemerintah untuk segera merestrukturasi jumlah Direksi PT Garuda dari yang sebelumnya berjumlah delapan orang menjadi enam orang dengan berpedoman pada peraturan penerbangan sipil.

"Kedua melakukan pergantian direksi dengan mengutamakan profesional di bidang penerbangan yang berasal dari internal PT Garuda. Karena lebih memahami permasalahan yang terjadi di internal perusahan," demikian Ahmad Irfan.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo

 

Wem Fernandez
02-05-2018 15:47