Main Menu

Industri Perbankan Diprediksi Tumbuh, Saham BNI Prospektif

didi
02-02-2017 19:45

Jakarta, GATRAnews - Analis Pasar Modal Satrio Utomo mengatakan, industri perbankan diprediksi bakal tumbuh signifikan pada tahun ini, karena situasi dan kondisi ekonomi dalam negeri mulai menggeliat. Sejumlah gejolak eksternal diramalkannya tidak bakal banyak berpengaruh karena fundamental kuat. Tidak disangkal, kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS) menghentak para pemodal.

Menurut Satrio, di Jakarta, Kamis (2/2), tak sedikit investor melakukan kalkulasi portofolio investasi. Tetapi, untuk investor domestik tidak terlalu khawatirkan. Apalagi, pasar modal domestik tumbuh signifikan.

"Jadi, kalau diamati pertumbuhan industri perbankan akan lebih baik tahun ini," ujar Satrio.

Satrio menyebutkan, bukti pertumbuhan ekonomi domestik itu terefleksi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kalau Indeks pada 2012 masih bertengger di kisaran 4.000, saat ini telah menyentuh level 5.200. Itu artinya, investasi saham di pasar modal menguntungkan.

"Dan, saham-saham perbankan masih sangat menarik,” tegasnya.

Sejumlah saham layak dikoleksi terutama berbalut Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, dari sejumlah saham perbankan, saham Bank Negara Indonesia (BBNI) paling menarik. Alasannya, dari sisi price to earning ratio (PER) masih berada di kisaran 8 kali. Itu menunjukkan saham perusahaan masih sangat layak di koleksi.

”Kalau saham perbankan lain PER-nya sudah di atas 15 kali, jelas mahal,” imbuh Satrio.

Selain itu, program nabung saham juga membuat industri perbankan lebih semarak. Karena dengan modal Rp 100 ribu, pemodal pemula bisa membeli saham. Itu juga sangat membantu masyarakat untuk mengenal industri pasar modal secara lebih sederhana.

Berdasarkan data perdagangan kemarin, saham BNI ditutup di kisaran Rp 6.025 per saham, naik 75 poin (1,3%). Sepanjang perdagangan, saham perusahaan ditransaksikan sebanyak 433,103 lot senilai Rp 260,55 milyar dengan nilai kapitalisasi pasar sejumlah Rp 111,23 trilyun.  

Sedangkan kinerja kuartal tiga tahun lalu, BNI mencatat laba bersih Rp 7,72 trilyun. Tumbuh 28,7% dibanding periode sama 2015 di kisaran Rp 5,99 trilyun. Laba bersih ditopang penyaluran kredit tumbuh stabil. Selain itu, juga ditopang pendapatan bunga bersih (NII) Rp 21,87 trilyun, naik 15% dari edisi sama 2015 di kisaran Rp 19,02 trilyun.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan Desember 2016 di kisaran Rp 4.401,9 trilyun. Menanjak 7,8% dibanding periode sama edisi 2015. Namun, raihan itu melambat dibanding periode November 2016 di kisaran 8,5%. Koreksi kredit itu terjadi menyusul pertumbuhan kredit modal kerja (KMK) hanya mekar 6,7% (year on year/yoy) dan kredit investasi (KI) meroket 8,9% (yoy). Dibandingkan November 2016, KMK surplus 7,2% (yoy), sedang kredit investasi melangit 11,9% (yoy).


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
02-02-2017 19:45