Main Menu

Akuisisi Star Energy, Harga Saham Barito Pacific Berpotensi ke Rp6.000

didi
27-04-2017 08:31

Ilustrasi - Geothermal (GATRA/Dharma Wijayanto/AK9)

Jakarta, GATRAnews - PT Barito Pacific Tbk memperkuat fokus bisnisnya dengan berekspansi ke sektor pembangkit listrik geothermal. Hal itu setelah perseroan mengakuisisi mayoritas saham ‎Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL).‎


Star Energy, yang merupakan perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu‎ telah menandatangani supplemental memorandum of understanding (MoU) dengan dua pemegang saham SEGHL, yakni Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited.

Transaksi tersebut merupakan transaksi afiliasi, sebab Barito Pacific, Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited dipegang olah orang yang sama yaitu Prajogo Pangestu.‎ ‎BRPT sudah membayar uang muka sebesar US$ 58,60 juta yang diambil dari fasilitas pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited senilai US$ 60 juta pada 21 Desember lalu.

Selain itu, perseroan juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk mendapatkan pinjaman sekitar US$ 300 juta dari sindikasi bank.

Sebagaimana diketahui, Barito Pacific telah memperoleh fasilitas pinjaman sebesar US$ 250 juta dari Bangkok Bank Public Company Limited.‎ Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.‎

Dengan masuknya ‎Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL) ke Barito Pacific dan melebur jadi satu, menurut Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang, maka menjadikan bisnis Barito Pacific lebih kuat. Dengan begitu sumber pendapatan ke perseroan menjadi lebih beragam, yakni dari sektor pembangkit listrik panas bumi dan petrokimia.

Saat ini, Barito Pacific merupakan pemegang saham pengendali di Chandra Asri, yang selama ini menjadi penopang utama kinerja bisnis dan saham perseroan.‎ Sebagaimana diketahui, tiap tahunnya Chandra Asri memperoleh kinerja yang positif. Pada tahun 2016, laba bersih Chandra Asri mencapai US$ 300 juta, atau naik seribu persen dari posisi laba US$ 26,33 juta.

Lanjut Edwin, ketika Barito Pacific, Star Energy dan Chandra Asri bergabung menjadi satu untuk fokus dalam mengelola geothermal, maka bisa membangun pembangkit listrik di Indonesia dari sumber alternatif, selain yang sudah ada saat ini.

"Secara profit semakin bagus. Karena revenue akan semakin besar, dan net profit akan semakin besar. Karena akan ‎semakin bagus. K‎alau kita lihat semua masuk, ada Chandra Asri, Star Energy, di bulan September atau Oktober, masuk ke BRPT, harusnya harga wajar BRPT di bursa sekitar Rp 6.000 per saham," kata Edwin, Rabu (26/4).

Sementara itu, Analis Senior dari Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berpendapat, jikalau melihat Barito Pacific mengakuisisi Star Energy, dapat dipastikan transformasi bisnis yang dilakukan Barito akan sukses.

"Dari perkayuan ke sumber daya alam dia ke arah bahan dasar karet sintetis. Dengan masuknya Star Energy akan masuk bisnis energi. Maka menambah added value. Saham Star Energy ke Barito Pacific maka akan lebih solid," kata Reza.

Ke depan, Reza menyebutkan, pelaku pasar tetap optimis dengan kinerja saham Barito Pacific. Namun, lebih optimis ketika Star Energy meraih nilai kontrak yang nyata untuk dijalankan pada tahun ini maupun yang akan datang.

"Barito Pacific setelah Star Energy masuk bisa bekerjasama dengan PLN untuk satu tahun depan, paling tidak bisa sudah mengamankan revenue. Star Energy kan cukup besar. Dengan masuknya Star Energy, maka target harga beli untuk pelaku pasar di hari ini sebesar Rp 4.000 per saham. Ini kan pasar diperkirakan akan merespon baik, setelah tuntas akuisisi," ‎pungkas Reza.‎ 


Reporter: Didi Kurniawan

didi
27-04-2017 08:31