Main Menu

66,66% Saham Star Energy Beralih ke Barito Pacific

didi
14-11-2017 12:32

Ilustrasi. (GATRA/Agriana Ali/AK9)

 


Jakarta, Gatra.com - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana untuk mengakuisisi 66,66% saham Star Energy Group Ltd.  Penyelesaian transaksi (closing transaction), diperkirakan akan tuntas pada semester I-2018.

 

Star Energy sendiri merupakan perusahaan energi yang dimiliki Ashmore Investment dan pemilik BRPT Prajogo Pangestu. Orang yang masuk daftar orang terkaya di Indonesia ini telah Star energy sejak 2007.

Namun, Star Energy belum tergabung dalam konsolidasi grup BRPT. Pihak BRPT menyatakan, dalam hal transaksi share sale and purchase agreements (SPA) sebelumnya, perseroan baru membayarkan uang muka. Oleh karena itu, sampai saat ini, Star Energy belum resmi dimiliki BRPT.

BRPT sudah membayar uang muka sebesar US$58,60 juta yang diambil dari fasilitas pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited senilai total US$250 juta.

Selain itu, untuk menambah dana untuk pembelian saham Star Energy, BRPT juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) untuk mendapatkan pinjaman sekitar US$300 juta dari sindikasi bank. Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.

BRPT menargetkan akuisisi Star Energy Group bisa segera diselesaikan seluruhnya. Untuk itu, BRPT menyiapkan dana sebesar US$700-US$800 juta.

Terkait eksplorasi yang dilakukan Star Energy, Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berkesempatan mengunjungi lokasi pengerjaan Geothermal milik Star Energy beberapa waktu lalu.

 

"Lokasi yang dikunjungi terletak di Gunung Salak, Bogor. Lokasi tersebut merupakan salah satu site dari beberapa site geothermal yang dimiliki oleh Barito Pacific," kata Reza dalam keterangannya kepada Gatra.com, Selasa (14/11).

 

Sejak tahun 2000, Star Energy memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Wayang Windu dengan kapasitas terpasang sekitar 227 MW. Pada awalnya, rencana langkah strategis adalah dengan mengakuisisi aset milik Chevron di Indonesia dan Filipina.

 

Untuk aset Chevron di Indonesia telah selesai diakuisisi pada bulan April 2017. Pada aset milik Chevron di Filipina tidak jadi diakuisisi karena partner Chevron di Filipina menjalankan hak first rights of refusal.

 

Untuk menjalankan akuisisi tersebut, dilakukan melalui Konsorsium Star Energy, yang terdiri dari Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (terafiliasi dengan Ayala Group Filipina) dan EGCO (Thailand).

 

Melalui akuisisi ini, Star Energy akan mendapat tambahan kapasitas dari dua proyek panas bumi Chevron di Indonesia, yaitu di Salak dan Derajat, dengan kapasitas 648 MW. 

 

Bila aset milik Chevron di Filipina di akuisisi, maka BRPT akan mendapat tambahan kapasitas dari aset panas bumi Chevron di Filipina sebesar 277 MW, sehingga total energi panas bumi yang dioperasikan Star Energy menjadi sekitar 1.152 MW.

 

Itu diperkirakan menjadikannya sebagai operator Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi terbesar di dunia. Akan tetapi, karena hanya mengakuisisi aset Chevron Indonesia saja maka Star Energy menjadi nomor 3 terbesar di dunia dan masih menjadi nomor 1 di Indonesia.

 

Saat ini, setelah Ashmore Investment menjual kepemilikannya, Star Energy dimiliki oleh BCPG, EGCO, Mitsubishi, dan Ayala. Star Energy dalam menjalankan kegiatan usaha geothermal mengoperasikan enam turbin, di mana tiga turbin kerja sama dengan PT Indonesia Power dan tiga turbin dioperasikan sendiri.

 

 

"Adapun kapasitas masing-masing turbin ialah 65 MW pada turbin milik Star Energy dan 60 MW pada turbin Indonesia Power," kata Reza.


 

Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Toha

didi
14-11-2017 12:32