Main Menu

Barito Pacific Buyback Saham dan Rights Issue

didi
13-12-2017 14:02

Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk Agus Salim Pangestu (tengah), Wakil Direktur Rudy Suparman (kiri), Direktur Henky Susanto (kedua kiri) Komisaris Alimin Hamdi (kedua kanan) dan Direktur Salwati Agustina, berbincang seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (13/12). (Antara/Audy Alwi/AK9)

 

Jakarta, Gatra.com - Pemegang saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Pada isi rapat, pemegang saham telah menyetujui rencana perusahaan melakukan pembelian kembali saham (buyback) 100 juta lembar saham dengan dana sebanyak-banyaknya Rp200 milyar.

 

Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan, tujuan pihaknya atas pelaksanaan pembelian kembali saham tersebut adalah untuk meningkatkan struktur permodalan perseroan.

 

"Pembelian kembali saham akan berasal dari kas internal perusahaan dan akan dilaksanakan selama periode 6 bulan, terhitung sejak 15 Desember 2017 hingga 14 Juni 2018," ujar Agus di Jakarta, Rabu (13/12).

 

RUPSLB perusahaan juga mengumumkan rencana menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue sebanyak-banyaknya 5,6 milyar saham dengan target perolehan dana sebanyak-banyaknya US$1 milyar untuk perusahaan.

 

Sebagaimana diketahui, Barito Pacific berencana memakan dana right issue untuk mengakuisisi 66,67% saham di dalam Star Energy Group Holdings Pte Ltd dengan harga sekitar US$755 juta, dan untuk modal kerja. Perseroan berharap bahwa akuisisi Star Energy dapat mengubah perusahaan menjadi grup energi terintegrasi terkemuka dengan geothermal yang berkapasitas dunia dan asset petrokimia.

 

"Transaksi ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengakuisisi Star Energy, tonggak penting di dalam transformais Barito Pacific yang juga dapat memberikan tambahan dana untuk pertumbuhan berkelanjutan dari perusahaan di dalam perjalanan untuk menjadi grup energi terintegrasi terkemuka," ungkap Agus.

 

Right issue, menurut Agus, akan disusun untuk memungkinkan pembagian sebagian kepemilikan saham untuk dialokasikan kepada institusi investor baru. Demikian pula, perusahaan meyakini bahwa rights issue ini akan berdampak kepada peningkatan saham publik dan investor yang lebih beragam yang akan memberikan dampak positif terhadap likuiditas perdagangan, visibilitas yang lebih baik bagi investor di Indonesia dan luar negeri, serta meningkatkan akses perusahaan terhadap perdagangan pasar modal domestik dan internasional.

 

"Rights issue akan bergantung pada persetujuan saham di dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 22 Januari 2018, dan diharapkan dapat memperoleh surat pernyataan efektif dari OJK, sebubungan dengan pernyataan pendaftaran yang akan disampaikan oleh perusahaan," jelas Agus.

 


 

 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
13-12-2017 14:02