Main Menu

Pasar Saham Tidak Bereaksi atas Pengesahan Pajak AS

Flora Librayanti BR K
22-12-2017 13:47

Ilustrasi. (Shutterstock/AK9)

 

- Pasar Asia dibuka di hari Kamis dengan berita bahwa Partai Republik mengesahkan RUU Pajak yang sudah lama dinantikan. Presiden Trump tak lama lagi akan dapat merealisasikan reformasi pajak.

 

“Herannya, reaksi terhadap hadiah akhir tahun untuk Trump ini tidak bergairah. Seperti telah diduga, berita baik ini ternyata telah direfleksikan dalam aksi harga,” demikian analisis Chief Market Strategist ForexTime (FXTM), Hussein Sayed dalam rilis yang diterima Gatra.com, Jumat (22/12/17).

 

Reaksi justru tampak lebih nyata di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi 10 tahun AS berada di atas 2.5% untuk pertama kalinya sejak Maret 2017 sehingga kurva imbal hasil dapat meningkat setelah mendatar selama hampir sepanjang 2017. Spread antara obligasi treasury 2 tahun dan 10 tahun melonjak lebih dari 12 bps, mencapai 63 bps, setelah merosot ke level terendah dalam sepuluh tahun terakhir pekan lalu.

 

Lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang ini seharusnya berdampak positif pada USD karena menyiratkan bahwa Fed seharusnya semakin agresif mengetatkan kebijakan di tahun depan. Reaksi Dolar ternyata tidak bergairah karena ada sisi lain dari situasi ini. Peningkatan suplai obligasi AS karena pemangkasan pajak yang biayanya tidak tertutup, kemungkinan akan membuat obligasi treasury AS menjadi kurang menarik di jangka lebih panjang. Mengingat sebagian besar bank sentral berusaha mengikuti Fed, imbal hasil di Eropa dan berbagai pasar lainnya juga diperkirakan akan meningkat di 2018 sehingga selisih suku bunga akan menyempit.

 

Defisit AS yang diduga akan meningkat signifikan juga akan berisiko terhadap peringkat kredit AS. Jika ada badan pemeringkat seperti Standard & Poor's, Moody's, atau Fitch yang menurunkan peringkat kredit AS, maka imbal hasil akan semakin meningkat. Namun begitu, dampaknya terhadap USD belum tentu positif, bahkan lebih mungkin sebaliknya.

 

Reaksi JPY juga tidak bergairah terhadap keputusan suku bunga Bank of Japan. Seperti diduga, BoJ mempertahankan suku bunga di level -0.1% dan target imbal hasil obligasi 10 tahun di kisaran 0%. Mengingat inflasi diperkirakan akan terus lemah dalam prospek kebijakan moneter, saya rasa kebijakan tidak akan berubah signifikan tahun depan. Karena itu, sementara ini JPY akan terus mencari arah sesuai dengan selera/penghindaran risiko di pasar saham.

 

Sementara itu, trader Euro menunggu hasil dari pemilu Catalonia hari ini. Survei menunjukkan bahwa persaingan akan berlangsung sengit antara partai Republik Kiri Catalonia yang mendukung kemerdekaan dan Ciudadanos yang mendukung Spanyol bersatu. Karena pemilu ini diprediksi tidak akan menghasilkan keputusan akhir dan partai-partai akan membentuk koalisi, risiko terjadi ketegangan dengan Madrid lagi tidak terlalu besar.

 

Di dalam negeri, sentimen terhadap ekonomi Indonesia semakin baik pada hari Kamis setelah Fitch meningkatkan peringkat kredit Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan prospek stabil. Fitch mengatakan "kebijakan ekonomi dan moneter telah membuat ekonomi Indonesia kuat menghadapi kejutan eksternal" dan ini menjadikan prospek secara keseluruhan terlihat sangat cerah dan menjanjikan. Indeks Harga Saham Gabungan menguat 1.21% setelah kenaikan peringkat kredit ini. Rupiah menguat terhadap Dolar ke level 13555 saat tulisan ini dibuat.


 

 

 

Editor : Flora L.Y. Barus

 



 

Flora Librayanti BR K
22-12-2017 13:47