Main Menu

Rupiah Stabil Menjelang Rilis Data Perdagangan Ritel Indonesia

Flora Librayanti BR K
10-04-2018 12:57

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah. (GATRA/Eva Agriana Ali/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Sebagian besar mata uang Asia memasuki pekan perdagangan dengan gagah karena Dolar terus tertekan oleh isu perdagangan AS-China.

Rupiah sendiri stabil terhadap Dolar pada perdagangan hari Senin. USD-IDR bergerak di kisaran Rp13.760 pada saat berita ini ditulis. “Walau berbagai faktor eksternal seperti NFP AS yang mengecewakan tampaknya akan terus memperkuat mata uang domestik, sentimen positif terhadap Indonesia juga berperan penting dalam memperkuat Rupiah,” sebut Chief Market Strategist Forex Time (FXTM), Hussein Sayed di Jakarta, Selasa (10/4).

Pasar, sebutnya, akan memperhatikan rilis laporan penjualan ritel Indonesia bulan Februari yang dapat memberi informasi baru mengenai keadaan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini. Data penjualan ritel akan sangat dicermati, terutama karena konsumsi swasta berkontribusi besar pada PDB Indonesia. Data yang mencapai atau melampaui ekspektasi pasar sebesar 0.88% dapat dianggap mendukung potensi PDB sehingga memperkuat optimisme pada ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, cuitan Presiden Trump di Twitter akan membingungkan untuk investor. Setelah mengancam menerapkan tarif US$100 miliar lagi pada ekspor China, Trump membuat cuitan bahwa ia akan selalu bersahabat dengan Presiden Xi dan China akan menghapuskan batasan, karena itulah hal yang seharusnya dilakukan.

“Drama perdagangan akan terus mewarnai beberapa pekan mendatang, namun komentar Presiden China di Forum Boao hari Selasa akan sangat menarik dicermati. Kita mungkin dapat mendengar apakah China siap membalas AS, atau ingin bernegosiasi,” tambah Hussein.

Trader minyak masih terus mencermati situasi di Suriah setelah Pentagon menyangkal melakukan serangan udara ke bandara di Homs. Serangan misil ini terjadi beberapa jam setelah Trump memperingatkan “harga yang mahal untuk dibayar”, sebagai tanggapan pada serangan ke Douma yang dikuasai kelompok pemberontak.

Dengan kata lain, ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik sepertinya masih terus akan mengurangi selera risiko. Tapi investor akan mendapat informasi baru pekan ini, terutama pendapatan berbagai bank besar dan data inflasi AS.

Indeks Harga Konsumen AS diprediksi meningkat 0.1% YoY menjadi 2.3%. Data inti diprediksi kembali menyentuh target Fed yaitu 2% setelah gagal mencapainya selama 11 bulan terakhir. Data inflasi dan rilis notulen FOMC di hari Rabu mungkin dapat mengubah ekspektasi suku bunga apabila ada kejutan. Kejutan positif dapat meningkatkan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun menuju 2.9% setelah turun 17 bps dari puncak bulan Februari yaitu 2.96%.


Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
10-04-2018 12:57