Main Menu

Prajogo Pangestu Beli Kembali Saham Barito Pasific

didi
12-07-2018 04:19

Ilustrasi Saham Barito Pacific. (GATRA/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pengusaha Nasional Prajogo Pangestu membeli kembali saham perusahaan miliknya PT Barito Pasific Tbk (BPRT) dalam perdagangan saham kemarin. Prajogo yang memiliki 71,2% saham membeli  22,9 juta saham dari publik sehingga  meningkatkan kepemilikannya menjadi 77,10%.

 

BPRT sendiri berencana mengakuisisi Star Energy. Sebagai produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia dan kedua di dunia berdasarkan kapasitas produksi, Star Energy akan membantu diversifikasi pendapatan BPRT dengan arus kas kontraktual jangka panjang. Star Energy saat ini memiliki kapasitas 875 MW dan memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi 1.200 MW dalam lima tahun ke depan.

Menurut Kepala Analis Narada Kapital Indonesia, Kiswoyo Adi Joe, prospek bisnis BPRT akan meningkat pasca akuisisi Star Energy. Merujuk harga saham BPRT saat ini, menurut Kiswoyo sangat murah. Dia melihat, aksi penambahan saham Prajogo di Barito merupakan kepedulian dan optimisme owner terhadap perusahaannya yang bisa  menjadi sentimen positif bagi investor publik maupun ritel.

‎"Efeknya bagus, sebagai owner atau pemilik melihat harga saham BPRT saat ini sudah murah sekali. BPRT masih di bawah harga wajar, hal ini bisa menjadi menjadi sentimen positif bagi investor publik dan institusi untuk masuk," ujar Kiswoyo kepada wartawan, Rabu (11/7) malam.

Dengan begitu, kata dia, investor tidak akan bingung lagi terkait harga wajar BPRT di pasar saham Indonesia. "Ownernya saja berani, apalagi investornya. Investor sebelumnya bingung, karena orang tahu kan sebelum harga naik, pasti harus masuk. Jadi ini akan banyak masuk dari para investor," jelas Kiswoyo.

Jika dari hitungan yang ada, lanjut Kiswoyo, harga saham BPRT akan makin meningkat. Dia memperkirakan, posisi harga saham Barito bisa mencapai Rp3.000 per saham. Kenaikan harga saham Barito,  karena bisnis Barito Pacific nyaris tanpa  kompetitor kuat di dalam negeri sehingga bisnis yang dijalankannya tetap dominan.

"Kinerja BPRT utamanya ditopang oleh Chandra Asri/TPIA dengan bisnis petrokimianya. Di sini kan kebutuhan petrokimia masih banyak dipenuhi impor. Di Indonesia hanya grup Barito satu-satunya perusahaan petrokimia yang terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Ditambah lagi ada Star Energy, maka akan memberikan nilai tambah lebih bagi Barito," kata dia.

Senada dengan Kiswoyo, Analis dari AAEI Reza Priyambada menjelaskan, aksi penambahan kepemilikan ‎saham yang dilakukan oleh Prajogo di Barito, merupakan sikap kepercayaan pemilik terhadap perusahaannya apalagi setelah Barito sukses mengakuisisi Star Energy.

"Bayangkan energi terbarukan belum sepenuhnya digunakan. Ke depan secara bertahap akan menggantikan minyak bumi dan batu bara, dan energi ini bisa dipebarui serta ini lebih murah dari pada batu bara dan minyak bumi. Jadi prospek energi panas bumi yang dimiliki Star Energy ini akan bagus ke depannya dan potensi bisnis Barito masih akan terus berkembang," tegas Reza.

"Ini prospek positif, karena aksi korporasi Barito ini terbilang afiliasi ya. Meski afiliasi, kinerjanya akan bagus. Barito ada Chandra Asri dan Star Energy, dua bisnis itu yang membantu kinerja Barito," kata Reza.



Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Hendri

didi
12-07-2018 04:19